Mari Makmurkan Masjid dengan Sholat Berjamaah di Masjid
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 18 Februari 2016
Waspadai Demam Berdarah
Basmi Habis Nyamuk dari Tempat Kita
Saat musim hujan, ancaman serangan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk di negara tropis seperti Indonesia, menjadi kondisi tak terelakkan.
Virus Zika hanyalah satu dari sekian banyak penyakit yang disebabkan nyamuk, di samping Demam Berdarah dan Malaria.
Indonesia adalah tempat yang subur untuk pertumbuhan penyakit yang disebabkan nyamuk. Sebuah lembaga penelitian asal Indonesia baru-baru ini melaporkan penemuan satu orang yang positif terjangkit virus Zika di pulau Sumatera akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti.
Karenanya, Peneliti dari Divisi Tropik dan Penyait Menular FKUI RSCM dr. Erni Juwita Nelwan, SpPD, KPTI, FACP, FINASIM menekankan pentingnya bagi Indonesia untuk mempersiapkan diri menghadapi potensi ancaman penyakit disebabkan nyamuk, terutama Aedes Aegypti. Jenis nyamuk ini merupakan penyebab demam berdarah dan juga penyebar virus Zika.
Diperlukan sebuah kesadaran bersama dan upaya pencegahan serius dari semua pihak dalam membasmi nyamuk Aedes Aegypti. Aedes aegypti umumnya berkembang biak di rumah. Jenis nyamuk ini menyukai air bersih dan terdapat di hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Nyamuk mempunyai sifat yang khas, menggigit pada pagi dan sore hari, senang hinggap di gantungan baju dan berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti bak mandi, tempayan, hinga tempat minum burung dan barang bekas yang terisi air hujan.
Selain upaya yang selama ini lazim dilakukan yakni Menguras, Menutup dan Mengubur (3M), yang terpenting, menurutnya, adalah kesadaran masyarakat untuk memulai pencegahan berkembangnya nyamuk dari lingkungan terkecil yakni rumah.
Selasa, 14 Oktober 2014
Masuk Neraka Gara-gara Air Wudhu?
Seri Kisah Teladan Musim Kekeringan
Berikut ini adalah cerita tentang dua orang dengan kondisi yang kontras: seorang laki-laki kaya raya dan perempuan papa. Dalam keseharian pun, keduanya tampak begitu berbeda. Sang lelaki hidupnya padat oleh kesibukan duniawi, sementara wanita yang miskin itu justru menghabiskan waktunya untuk selalu beribadah.
Kesungguhan dan kerja keras lelaki tersebut membawanya pada kemapanan ekonomi yang diidamkan. Kekayaannya tak ia nikmati sendiri. Keluarga yang menjadi tanggung jawabnya merasakan dampak ketercukupan karena jerih payahnya. Lelaki ini memang sedang berkerja untuk kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya.
Nasib lain dialami si perempuan miskin. Para tetangganya tak menemukan harta apapun di rumahnya. Kecuali sebuah bejana dengan persediaan air wudhu di dalamnya. Ya, bagi wanita taat ini, air wudhu menjadi kekayaan yang membanggakan meski hidup masih pas-pasan. Bukanah kesucian menjadikan ibadah kita lebih diterima dan khidmat? Dan karenanya menjanjikan balasan yang jauh lebih agung dari sekadar kekayaan duniawi yang fana ini?
Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani dalam kitab al-Minahus Saniyyah mengisahkan, suatu ketika ada seorang yang mengambil wudhu dari bejana milik perempuan itu. Melihat hal demikian, si perempuan berbisik dalam hati, “Kalau air itu habis, lalu bagaimana aku akan berwudhu untuk menunaikan sembahyang sunnah nanti malam?”
Apa yang tampak secara lahir tak selalu menunjukkan keadaan sebenarnya. Diceritakan, setelah meniggal dunia, keadaan keduanya jauh berbeda. Sang lelaki kaya raya itu mendapat kenikmatan surga, sementara si perempuan papa yang taat beribadah itu justru masuk neraka. Apa pasal?
Lelaki hartawan tersebut menerima kemuliaan lantaran sikap zuhudnya dari gemerlap duniawi. Kekayaannya yang banyak tak lantas membuatnya larut dalam kemewahan, cinta dunia, serta kebakhilan. Apa yang dimilikinya semata untuk kebutuhan hidup, menunjang keadaan untuk mencari ridla Allah.
Pandangan hidup semacam ini tak dimiliki si perempuan. Hidupnya yang serbakekurangan justru menjerumuskan hatinya pada cinta kebendaan. Buktinya, ia tak mampu merelakan orang lain berwudhu dengan airnya, meski dengan alasan untuk beribadah. Ketidakikhlasannya adalah petunjuk bahwa ia miskin bukan karena terlepas dari cinta kebendaan melainkan “dipaksa” oleh keadaan.
Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani menjelaskan dalam kitab yang sama bahwa zuhud adalah meninggalkan kecenderungan hati pada kesenangan duniawi, tapi bukan berarti mengosongkan tangan dari harta sama sekali. Segenap kekayaan dunia direngkuh untuk memenuhi kadar kebutuhan dan memaksimalkan keadaan untuk beribadah kepada-Nya.
Nasihat ulama sufi ini juga berlaku kebalikannya. Untuk cinta dunia, seseorang tak mesti menjadi kaya raya terlebih dahulu. Karena zuhud memang berurusan dengan hati, bukan secara langsung dengan alam bendawi.
Senin, 17 Februari 2014
Al-Muhajirin Go Green Mengembangkan Lingkungan
Peresmian masjid Al-Muhajirin yang sudah dilakukan pada Ahad (16/2) dengan diiringi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, menjadi dentum awal program pengembangan ke depan bagi pengurus masjid dan warga di lingkungan Perumahan Tjitra Mas Residence.
Dalam menyikapi hal tersebut, akan dilakukan penataan taman dan penanaman pohon di sekitar masjid yang berukuran 11 x 11 meter tersebut.
“Kegiatan penanaman ini dapat dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan musim kemarau yang panas untuk menjadikan lingkungan sekitar masjid enak dilihat, rindang, sejuk, dan tentunya mengurangi pemanasan dan polusi.
Menurut Yayan Heryana, penanaman ini meripakan salah satu rangkaian kegiatan jelang pemasangan kanopi depan masjid yang sedang dikalkulasi kebutuhan barang dan dana.
“Kami hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada para warga yang nantinya dapat menyumbangkan sekaligus menanamkan pohon, baik bunga, pohon buah, maupun pohon pelindung penghijauan,” ungkap Deden sukanta, yang selama ini memegang tanggung jawab pembangunan dan keuangan masjid.
Senin, 07 Oktober 2013
Fogging Berkala Basmi Nyamuk
Perlu Peran Masyarakat
Untuk pencegahan demam berdarah di lingkungan warga, sudah saatnya dilaksanakan pengasapan (fogging) secara rutin dan terprogram. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi semua perangkat RT dan RW. Untuk kelancarannya dapat dilakukan kerjasama dengan pihak Puskesmas setempat. Semua tempat di lingkungan RT-RW terfogging seperti rumah warga, area fasum, masjid, taman bermain dan lahan pinggir sungai seharusnya ikut terkena pengasapan.
Untuk mencegah dan membatasi penyebaran penyakit DBD, setiap keluarga harus berpartisipasi dalam kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD), yaitu dengan cara 3M :
1. Menguras tempat-tempat penampungan air seperti tempayan, drum, bak mandi/bak wc dan lain-lain atau menaburkan bubuk abate
2. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air, agar nyamuk tidak dapat masuk dan berkembang biak di dalamnya.
3. Mengubur/menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng-kaleng bekas, plastik bekas dan lain-lain.
Semoga dengan dilaksanakannya kegiatan ini dapat memperkecil berkembangnya nyamuk yang dapat menyebarkan penyakit demam berdarah di lingkungan kita.
Minggu, 18 Agustus 2013
Turap Mushola Al-Muhajirin Ambruk
Turap Mushola Al-Muhajirin yang belum genap sebulan roboh akibat gerusan air hujan yang terjadi pada sore menjelang malam takbir Idul Fitri kemarin (7/8/13), hingga kini belum diperbaiki. Akibatnya, batu dan material bangunan masih berserakan di bahu jalanan blok F2 Perumahan Tjitra Mas Residence.
Turap yang dibangun untuk mengantisipasi longsornya tanah mushola yang sudah menggerus pondasi bambu itu, memang terlalu cepat roboh dari prediksi perbaikan yang mestinya juga akan dilakukan setelah lebaran atau 2 bulan.
Waspada dan hati-hati tentu harus menjadi skala prioritas dalam rangka pengamanan terhadap keberadaan sarana dan prasarana publik. Ambruknya turap Mushola yang sedianya akan dilanjutkan pembangunan masjid Al-Muhajirin bekerjasama dengan PKPU merupakan pengalaman yang harus di jadikan bahan kajian tentang kelayakan sebuah bangunan permanen. Apalagi ambruknya turap itu menandakan jika prediksi usia turap sangat tidak masuk akal karena tidak bertahan sebulan sehingga membutuhkan adanya kedisiplinan proses perencanaan dan pembangunan.
Kekhawatiran akan ambruknya turap, jauh hari memang sudah diungkapkan oleh Ustadz Khamdan dan Deden Sukanta selaku bendahara pembangunan ketika mengetahui dalam waktu seminggu sudah terjadi patahan dan retakan yang diakibatkan tidak adanya semen dalam pondasi di bawah tanah.
Sampai saat ini, pengurus Mushola telah membentuk Tim Khusus untuk mengkaji letak kelemahan turap dari berbagai aspek. Ada empat hal yang harus di kaji ulang oleh tim yaitu meneliti proses komposisi material, membandingkan kondisi terakhir turap, pola tumpukan batu dengan semen, serta teknis pembuatan turap itu sendiri.
“Untuk pembangunan kembali, kita akan koordinasikan dulu dengan desain pembangunan Masjid Al-Muhajirin yang dibantu oleh PKPU agar ada sinkronisasi pembangunannya” tutur Yayan Heryana selaku ketua pembangunan kemarin.
Selasa, 23 Juli 2013
Jumat, 05 Juli 2013
Perubahan Cuaca Ekstrim
Tjitra Mas Diguyur Hujan Berturut-turut
Awan mendung nampaknya masih menyelimuti kawasan Tjitra Mas Residence di kampung Berkat, desa kalisuren, Tajurhalang Bogor, Kamis (4/7/2013). Namun mendung yang sangat pekat malam ini hanya dengan guyuran hujan berintensitas sangat rendah. Hal tersebut berdasar informasi yang yang dilansir Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam situs resminya untuk wialayah Bogor dan sekitarnya.
Sepanjang pekan ini, hujan sudah mengguyur kawasan perumahan sederhana yang berada di wilayah RT 4 RW 1 Desa Kalisurean dari hari Senin sampai kamis ini. Bahkan sangat dimungkinkan besok masih juga diselimuti awan mendung seharian.
Selasa, 02 Juli 2013
Bogor Kota Lestari
Balikpapan dan Bogor Kota Lestari Dunia
Dua kota di Indonesia yakni Balikpapan dan Bogor terpilih dan masuk dalam Program Internasional Council for Local Environmental Initiatives (ICLEI) yang dilakukan lembaga Internasional Council for Local Environmental Initiatives (ICLEI).
Dua kota itu terpilih sebagai kota yang akan dibantu dalam perencanaan, pengembangan pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan dan rendah emisi. Lembaga tersebut, memiliki 1.200 anggota kota-kota di dunia yang difasilitasi Uni Eropa.
"Hanya ada dua yang terpilih yakni Balikpapan dan Bogor terpilih dari 95 kota dan kabupaten di Indonesia, dan kita masuk dalam 1.200 kota didunia yang terpilih," kata Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Balikpapan Fachruddin Harami kepada Jurnal Nasional Jumat (28/6).
Terpilihnya Balikpapan dan Bogor dalam program ICLEI melalui proses seleksi bersama APEKSI dan mengumumkan secara terbuka mengenai inisiatif kota dan program-program ramah lingkungan termasuk komitmen pembangunan untuk kota yang lestari. "Jadi mereka menilai Bogor dan Balikapapan yang sudah sangat baik dalam konteks kota yang lebih lestari," ucapnya.
Menurut Fachruddin Lembaga ICLEI akan membantu Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan dan Bogor dalam upaya penghematan energy dan adaptasi perubahan iklim yang direncanakan dalam pembangunan kota menuju kota yang lebih lestari.
"Pemkot sudah mendiskusikan mengenai program baru mengenai emisi rendah bersama pemmimpin tim ICLEI dan APEKSI, kemarin (Kamis). Jadi kita bantu buat kebijakan yang rendah emisi, kemudian diturunkan menjadi rencana aksi kota yang akan dilaksanakan," katanya.
Program tersebut kata Facruddin, akan berjalan selama 3 tahun dengan kerjasama yang difaslitasi UN dan Urban Ledds yang melibatkan empat negara yakni Indonesia, Brasil, Afsel dan India. Kota-kota yang masuk dalam ICLEI saling berkerjasama, mengenai proses pambngunan kota rendah karbon.
"Ada bantuan teknis dan kumpulan ahli, penyusunan strategi, kegiatan. Membiaya kegiatan menuju sebuah strategi pembangunan. Dana dapat berasal dari APBD, APBN juga support pendanaan dari Uni Eropa," katanya.
ICLEI menilai Balikpapan memiliki keunggulan dalam bidang pengelolaan sampah di TPA Manggar dengan pemanfaatan gas metan. Saat ini di Indonesia, ICLEI sudah membuat pemetaan perencaan untuk kota Bogor seperti penerapan ransportasi hijau dan pengolahan gas metan dari sampah.
"Pengelolaan sampah kita menjadi gas metan , gas ramah lingkungan, yang dimanfaatkan masyarakat untuk keperluan rumah tangga, bahkan dianggap yang terbaik di Asia," katanya
Referensi : http://www.jurnas.com/halaman/11/2013-06-29/253817
Senin, 01 Juli 2013
HUT Bogor 531: Festival Budaya Daerah 2013
Tajurhalang: Sunda Selera Betawi
![]() |
| Anjungan Betawi Kecamatan Tajurhalang |
Festival Budaya Bogor
2013 sebagai acara puncak di hari ulang tahun Kabupaten Bogor ke-531
meninggalkan kesan positif pada warga yang menyaksikan acara tersebut. Mereka
menilai, Pemkab Bogor sudah menyajikan suatu acara yang menghibur masyarakat Bogor.
![]() |
| Turis Mancanegara di Jasinga |
Setidaknya, acara
yang menghadirkan seluruh potensi budaya dari keseluruhan kecamatan se-Bogor
itu dapat dimanfaatkan warga yang sudah merasakan masa liburan sekolah (16/6).
Kegiatan yang berlangsung di sepanjang jalan Tegar Beriman ini juga diikuti
Kecamatan Tajurhalang dengan anjungan nomor 09.
![]() |
| Kerukunan Petani Kecamatan Tamansari |
"Acaranya bagus,
(kalau) setiap tahun berkala ada acara ini bagus," kata Nadhira. Hal senada diungkapkan Amrina.
Menurutnya, dengan menghadirkan kesenian khas masing-masing kecamatan, maka
masyarakat asli maupun pendatang di Bogor akan dapat melestarikan.
![]() |
| Pencak Silat Cilik Kecamatan Caringin |
Sejumlah budaya Sunda, tarian, dan hiasan anjungan memeriahkan acara.Namun berbeda bagi anjungan Kecamatan Tajurhalang yang menghadirkan nuansa Betawi sendiri di dalam kepungan budaya Sunda. Sangat dimaklumi karena di Tajurhalang pengaruh tokoh-tokoh Betawi masih sangat kuat karena beberapa tinggal di sana.
Nadhira mengungkapkan,
perlu ada perbaikan dalam acara Festival Budaya Bogor 2013 kali ini dari pihak
panitia. Pasalnya, sejumlah anjungan panggung yang ada terhambat dengan
keberadaan warga yang berada di jalur lintas anjungan.
"Mungkin buat
panitia bisa pasang pembatas, biar panitianya enggak repot. Lewatnya juga
lancar, jadi kan mereka tidak tersendat-sendat," ujar Nadhira.
Langganan:
Postingan (Atom)











