Mari Makmurkan Masjid dengan Sholat Berjamaah di Masjid
Jumat, 17 Juni 2016
Iradat
Pengajian Ba'da Subuh 11 Ramadhan 1437 H
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى اَلإِرَادَةُ وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالى يُخَصِّصُ بِهَـا الْمُمْكِنَ بِالْوُجُودِ أَوْ بِالْعَدَمِ أَوْ بِالْغَـنِيِّ أَوْ بِالْفَقْـرِ أَوْ بِالْعِـلْمِ أَوْ بِالْجَهْلِ اِلى غَيْرِ ذلِكَ وَضِدُّهَـا الْكَرَاهَةُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ كَارَهًا لَكَانَ عَاجِزًا وَ كَوْنُـهُ عَاجِزًا مُحَالٌ
Dan wajib dalam haqnya Allah, yaitu sifat Iradat (Berkehendak). Sifat ini merupakan salah satu sifat yang qadim yang menetap dalam Dzatnya Allah yang menentukan segala sesuatu mungkin terjadi atau tidak terjadi, keadaan kaya atau miskin, berilmu atau bodoh atau keadaan lainnya. Lawan dari sifat iradat adalah Karahah (terpaksa), dan dalil atas itu adalah jika Allah terpaksa maka Allah lemah dan keberadaan Allah yang lemah merupakan suatu kemustahilan.
Penjelasan:
Kehendak Allah adalah ketentuan Allah atas sesuatu baik waktu, tempat, atau sebagainya untuk diwujudkan atau ditiadakan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 185:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
(Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu).
Kejadian apapun yang terjadi di dunia ini adalah adalah sesuai Iradat atau kemauan Allah. Seseorang yang pintar karena sekolah, atau yang bodoh meski rajin sekolah adalah kemauan Allah. Demikian juga siapapun yang masuk surga dan masuk neraka adalah kemauan Allah.
Kisah Ibn Hajar Al-Asqolani
Beliau seorang yatim, Ayahnya meninggal pada saat beliau masih berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika beliau masih balita. Di bawah asuhan kakak kandungnya, beliau tumbuh menjadi remaja yang rajin, pekerja keras dan sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupannya serta memiliki kemandirian yang tinggi. Beliau dilahirkan pada tanggal 22 Sya’ban tahun 773 Hijriyah di pinggiran sungai Nil di Mesir bernama Asqolan.
Saat masih belajar di sebuah madrasah, ia terkenal sebagai murid yang rajin, namun juga dikenal sebagai murid yang bodoh, selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya, sehingga membuatnya patah semangat dan frustasi.
Beliau memutuskan pulang meninggalkan madrasahnya. Di tengah perjalanan pulang, dalam kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya, hujan pun turun dengan sangat lebatnya, mamaksa dirinya untuk berteduh di dalam sebuah gua. Ketika di dalam gua tertujulah pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu, ia pun terkejut. Maka bergumamlah dalam hati, sungguh sebuah keajaiban.
Melihat kejadian itu beliaupun merenung, bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air. Ia terus mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus. Dari peristiwa itu, seketika ia tersadar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia di asah trus menerus maka ia akan manjadi lunak. Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar.
Sejak saat itu semangatnya pun kembali tumbuh lalu beliau kembali ke sekolahnya dan menemui Gurunya dan menceritakan pristiwa yang baru saja ia alami. Melihat semangat tinggi yang terpancar di jiwa beliau, gurunya pun berkenan menerimanya kembali untuk menjadi murid disekolah itu.
Sejak saat itu perubahan pun terjadi dalam diri Ibnu Hajar. Beliau manjadi murid yang tercerdas dan melampaui teman-temannya yang telah menjadi para Ulama besar dan ia pun tumbuh menjadi ulama tersohor dan memiliki banyak karangan dalam kitab-kitab yang terkenal di jaman ini.
Di antara karya beliau yang terkenal ialah: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat (kajian).
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai ia sendirilah yang mengubah keadaan mereka sendiri” ( QS. Ar Rad : 11 ).
Dalam pendekatan dalil Iradat dan kisah Ibn Hajar Al-Asqolani, sesungguhnya kehendak Allah yang berupa takdir dikategorikan menjadi 2, yaitu:
Pertama, Takdir Mubrom, berupa takdir "sunnatullah" yang tidak dapat dirubah, seperti matahari terbit dari timur, peredaran bumi, peredaran bulan, maupun tentang kematian dan kelahiran.
Kedua, Takdir Mu'allaq, berupa takdir yang dapat berubah sesuai dengan hubungan ikhtiar hamba. Ikhtiar adalah cara pandang syari'at, sedangkan takdir adalah wilayah hakikat.
"Sehebat-hebat himmah dan tekad kita, tidak akan dapat merobohkan takdir Allah. Oleh karena itulah adanya The Power of DOA"
TMR Kalisuren, 16 Juni 2016, Pukul 05:10-06:40 WIB
Kitab Tijan Durori, fasal Sifat Iradat
Qudrat
Pengajian Ba'da Subuh 10 Ramadhan
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى اَلْقُدْرَةُ وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالى يُوجَدُ بِهَا وَيُعَدِّمُ وَضِدُّهَا الْعَجْزُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ عَاجِزًا لَمْ يُوجَـدْ شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ
Wajib dalam haq-nya Allah yaitu sifat Qudrat, yang mengandung arti sifat terdahulu yang menetap pada Dzat-Nya. Lawannya adalah sifat (العجز) yang berarti lemah. Dan dalil atas Allah bersifat Qudrat (berkuasa), yaitu jika keadaan Allah lemah, maka tidak akan dijumpai sesuatu pun dari aneka ragam ciptaan-Nya.
Penjelasan:
Sifat Qudrat termasuk kelompok sifat ma’ani, yaitu kelompok sifat yang ada pada Allah, jika dibukakan tabir hijab (penghalang) maka akan kelihatan sifat qudratnya Allah itu. Sifat qudrat ini menetap dalam dzat yang maha qodim, maka keadaan sifat qudrat tentu ikut qodim juga. Tidak didahului oleh lemah, tidak pernah diselingi oleh lemah, dan tidak akan diakhiri dengan lemah. Sifat qudrat ini termasuk sifat iftiqor yaitu adanya setiap makhluk pasti membutuhkan Allah.
Dalam perwujudan kehendak dan kemaha-kekuasaannya Allah, mencakup 4 (empat) sasaran perkara, yaitu:
Pertama, Wajib wujud muthlaq, yaitu wajib adanya sesuatu secara mutlak harus ada, seperti wajib adanya sifat qudrat, iradat, ilmu.
Kedua, Wajib wujud muqoyyad, yaitu adanya sesuatu karena sudah dijanjikan oleh Allah, baik sesuai dengan firmanNya maupun dalam hadis, seperti adanya surga, neraka, sifat Rasul, kiamat, atau mati.
Ketiga, Mukhal wajib, yaitu kemustahilan yang tidak akan terjadi oleh kehendak Allah, seperti allah menciptakan anakNya, atau IstriNya.
Keempat, Mumkinul Wujud, yaitu sesuatu yang mungkin dapat terwujud atau sesuatu yang tidak terwujud tergantung oleh Allah itu sendiri. Misal orang makan maka bisa dijadikan oleh Allah kenyang ataupun tetap lapar. Orang yang sudah rajin bekerja, tekun, dan ulet, maka bisa dijadikan oleh Allah kaya atau tetap saja miskin.
Kalau Allah berkuasa, kenapa masih perlu adanya Malaikat untuk mengantar wahyu, mengatur rizqi, mencabut nyawa? Itu karena Allah adalah RAJA segala RAJA yang sangat BERKUASA. Kinerja Malaikat itulah yang menunjukkan adanya kekuasaan besar Allah.
Tidak mungkin raja di dunia itu mengerjakan urusan potong rumput, masak di dapur, atau ngepel lantai kerajaan. Oleh karena itu Raja memiliki banyak pelayan dan pembantu. Itulah Maha Berkuasanya Allah.
TMR Kalisuren, 15 Juni 2016, Pukul 05:10 - 06:00 WIB
Kitab Tijan Durori, fasal Sifat Qudrat
Wahdaniyyah (2)
Penjelasan Khoriqul Adah atau Khowariqul Adah (خوارق العادة)
Khoriqul adah atau khowariqul adah merupakan peristiwa yang terjadi di luar batas kemampuan manusia biasa. Peristiwa itu seperti seseorang yang dibakar api namun tidak merasakan panas. Seseorang dapat terbang dan berjalan di atas air. Atau seseorang yang tidak tergores meski dilukai menggunakan pedang atau senjata tajam lainnya.
خوارق العادة على أربعة أقسام
Para ulama menjelaskan jenis kejadian yang di luar nalar menjadi 4 (empat) kelompok besar:
Pertama, المعجزة المقرونة دعوى النبوة المعجوز عن معارضتها Mukjizat adalah keistimewaan yang hanya dimiliki oleh Rasul. Keistimewaan tersebut tidak dapat dipelajari atau adanya proses usaha tertentu. Ini seperti Nabi Ibrahim di bakar Namrud tapi tidak merasakan panas, Nabi Musa membelah Laut Merah, Nabi Isa dapat menghidupkan orang mati, atau Nabi Muhammad membelah rembulan.
Kedua, والكرامة وهى ما تظهر على يد كامل المتابعة لنبيه Karamah merupakan keistimewaan yang diberikan kepada wali karena kesempurnaan dalam meneladani perintah syari'at Nabi. Anugerah ini dimiliki tanpa adanya proses belajar maupun ritual amalan-amalan tertentu. Seperti karomah Mbah KH. Hasan Asy'ari (Mbah Mangli Magelang) yang dapat mengisi pengajian di Magelang, namun pada waktu yang sama mengisi juga di Wonosobo, Semarang, Jakarta, bahkan Sumatera. Atau karomah dari kisah-kisah wali jadzab (nyeleneh) lainnya.
Bentuk karamah dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu 1) irhash (إرهاص) kepada calon nabi sebelum menerima wahyu, seperti Nabi Muhammad semenjak lahir sampai masa kenabian tidak pernah dihinggapi lalat atau nyamuk. dan 2) ma’unah (معونة) kepada seseorang yang beriman dengan istiqomah untuk tidak melakukan kemaksiatan.
Ketiga, والاستدراج هو ما يظهر على يد الفاسق المغتر Istidraj merupakan sebuah kekuatan yang dimiliki orang fasiq atau orang yang terjerumus dalam kemusyrikan. Misal kelebihan dalam harta yang diberikan kepada Qarun sehingga menjadi orang yang lupa ibadah. Atau orang yang meninggalkan sholat justru diberikan kenikmatan yang sangat berlebih oleh Allah dan semakin meningkat perbuatan maksiatnya (Baca Surat Al- Qalam ayat 17-33).
Keempat, والسحر وهو ما يحصل بتعلم ومباشرة سبب على يد فاسق أو كافر Sihir merupakan kekuatan yang diperoleh dengan cara ritual-ritual tertentu dan dikuasakan pada diri orang yang fasiq atau orang musyrik, dan orang kafir.
Sejarah perkembangan ilmu sihir sendiri marak semenjak meninggalnya Nabi Sulaiman. Iblis ketika masa Nabi Sulaiman masih hidup, suka mengintip kabar dari langit tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di dunia. Satu kabar yang didapatkan iblis, kemudian disampaikan kepada para pemuka Israel sebanyak 70 kabar sehingga 69 berita bersifat bohong. Catatan-catatan itulah yang kemuduan dianggap sebagai ramalan masa depan yang seolah manusia dapat merubahnya dengan disisipi mantra-mantra oleh Iblis. Oleh Nabi Sulaiman semua itu disita, dan dikubur di bawah singgasananya. Semenjak Nabi sulaiman meninggal maka Iblis menyebarkan isu bahwa Nabi Sulaiman hanya sekadar ahli sihir yang mantra-mantranya disimpan di bawah singgasana kerajaannya (Baca Surat Al-Baqarah ayat 102).
TMR Kalisuren, 14 Juni 2016, Pukul 05:15 - 06:00 WIB
Kitab Tijan Durori, fasal Sifat Wahdaniyyah
Sumber tambahan khoriqul adah: Kitab Bughyatul Mustarsyidin, hal. 298-299.
Wahdaniyyah (1)
Sifat Wajib Wahdaniyah
َجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى اَلْوَحْدَنِيَّـةُ فِى الذَّاتِ وَفِى الصِّفَاتِ وَفِى الأَفْعَالِ وَمَعْنَى الْوَحْدَانِيَـةِ فِى الذَّاتِ أَنَّهَا لَيْسَتْ مَرَكَّبَةً مِنْ أَجْزَاءٍ مُتَعَدِدَةٍ وَمَعْنَى الْوَحْدَانِيَـةِ فِى الصِّفَاتِ أَنَّـهُ لَيْسَ لَهُ صِفَتَانِ فَأَكْثَرَ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ كَقُدْرَتَيْنِ وَهَكَذَا وَلَيْسَ لِغَيْرِهِ صِفَةٌ تُشَابِهُ صِفَتَهُ تَعَالى وَمَعْنَى الْوَحْدَانِيَـةِ فِى الأَفْعَالِ أَنَّـهُ لَيْسَ لِغَيْرِهِ فِعْـلٌ مِنَ الأَفْعَالِ وَضِدُّهَا التَّعَدُّدُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُتَعَـدِّدًا لَمْ يُوجَـدْ شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ
Wajib dalam haqnya AllAh yaitu siFat wahdaniyat (tunggal), di dalam dzatnya dan sifatnya serta perbuatannya (penciptaanya). Adapun makna wahdaniyat dalam dzatNya adalah Allah tidak tersusun dari berbagai bagian yang berbilang. Adapun makna wahdaniyat dalam sifatNya adalah tidak adanya pada Allah dua sifat atau lebih yang menyamai dengan sifat-Nya. Adapun makna wahdaniyat dalam af’al (pekerjaanNya) adalah tidak adanya yang mempengaruhi apa yang dikehendaki Allah.
Lawan dari sifat wahdaniyyat adalah ta’addud (berbilang), yang merupakan kemustahilan bagi Allah.
Penjelasan.
Kata wahdaniyat secara bahasa yaitu "satu Allah", tapi yang dimaksud disini satu dalam artian tidak ada bilangannya, ia tidak terliputi oleh bilangan, satu bukan bagian dari yang banyak, seperti ada satu, ada dua, ada tiga dan seterusnya. Serta satunya itu bukan hasil merangkaikan dari bilangan bagian-bagian, seperti ada kata trimurtri yang menjadi satu dari hasil rangkaian sepertiga dari hitungan tiga bagian atau seperempat dari empat bagian.
Imam Nawawi Al-Bantany menjelaskan bahwa sifat wahdaniyat mencabut lima bilangan hal, yaitu:
1. Kam munfashil fi dzati, yang berarti tunggalnya Allah bukan bagian dari 2, 3, 4, 5, dan seterusnya
2. Kam muttashil fi dzati, yang berarti tunggalnya Allah bukan terdiri dari berbagai bagian, misal sepertiga dari bagian ketiga, atau seperempat dari bagian keempat.
3. Kam munfashil fi shifat, yang berarti sifatnya Allah berbeda dengan sifat-sifat di luar Allah, seperti berkuasa, berilmu, yang jelas berbeda antara kuasa dan ilmunya Allah dengan makhlukNya
4. Kam muttashil fi shifat, yang berarti sifatnya Allah hanya satu untuk Allah, yaitu qudrat, iradat, ilmu, dan hayat-Nya Allah hanya satu bukan dua, tiga, empat, dan seterusnya
5. Kam Munfashil fil af’al, yang berarti tindakan Allah tidak tergantung apapun dan terpisah dari tekanan atau pengaruh makhlukNya.
Dalam mengakidahi sifat wahdaniyyah, perlu memperhatikan empat prinsip dalam ibadah setiap harinya, yaitu:
1. La Maujudun Illallah (tidak ada yang terwujud / terjadi kecuali oleh Allah)
2. La Ma’budun Illallah (tidak ada yang disembah kecuali hanya Allah)
3. La Mathlubun Illallah (tidak ada yang dicari keridhoaan kecuali pada Allah)
4. La Maqshudun Illallah (tidak ada maksud perbuatan yang dilakukan kecuali pada Allah)
Kehendak Allah terhadap makhluknya, digolongkan pada 2 bentuk:
1. Af’al Mukhtar, yaitu kehendak yang terjadi dengan adanya sambungan sebab akibat dari makhluknya. Manusia untuk menjadi kaya maka dengan syarat rajin dan tekun bekerja. Seorang atlet supaya menjadi juara maka butuh latihan terus menerus dan tidak patah semangat. Seorang pelajar agar lulus ujian dengan baik maka harus belajar dan mencoba dengan berbagai latihan soal
2. Af’al Mudhtar, yaitu kehendak Allah yang tidak ada hubungan sama sekali dengan makhluknya. Misal Allah menciptakan langit, bumi, surga, neraka, siang, dan malam.
Kedua model kehendak Allah inilah yang kemudian juga memunculkan istilah khoriqul adah. Perbuatan atau kejadian yang terjadi di luar kebiasaan pada umumnya.
Irhas (calon nabi), Mukjizat (Nabi), Karomah (Wali), Ma'unah (Orang Sholeh), Istidraj (Orang Fasik), Sihir atau Ihana (Kafir Kemusyrikan) adalah bentuk-bentuk perbuatan yang di luar kebiasaan manusia pada umumnya berdasarkan tingkat pelaku.
Pada aspek kehalalan maupun keharaman, perlu memperhatikan tindakan, maksud, dan tujuan, serta cara khoriqul adah itu terwujud.
Wallahu a'lam
TMR Kalisuren, 11-13 Juni 2016, 05:15 - 06:00 WIB
Kitab Tijan Durori, fasal Sifat Wahdaniyat
* Penjelasan lanjutan tentang khoriqul adah, session ke-2
Qiyamu Bi Nafsi
Pengajian Ba'da Subuh Ramadhan
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى اَلْقِيَامُ بِالنَّفْسِ وَمَعْـنَاهُ أَنَّـهُ تَعَالى لاَيَفْتَقِرُ اِلى مَحَلٍ وَلاَاِلى مَخَصِّصٍ وَضِدُّهُ اَلإِحْتِيَاجُ اِلى الْمَحَلِ وَالمَخَصِّصِ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ احْتَـاجَ اِلى مَحَلٍ لَكَانَ صِفَةً وَكَونُهُ صِفَة مُحَال وَ لَوْ احْتَـاجَ اِلى مَخَصِّصٍ لَكَانَ حَادِثًـا وَكَونُهُ حَادِثًـا مُحَالٌ وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى
Wajib dalam haqnya Allah yaitu sifat al-qiyamu binnafsi (berdiri sendiri), yang bermakna sesungguhnya Allah tidak butuh tempat dan tidak membutuhkan siapapun yang menentukannya. Lawan dari sifat ini adalah al-ihtiyaju (butuh) terhadap tempat serta butuh terhadap yang menentukan. Dalil yang memperkuat sifat alqiyamu binnafsi adalah jika Allah membutuhkan tempat maka terbukti bahwa Allah sama dengan makhluk, sedangkan sifat tersebut merupakan kemustahilan.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syuro: 21)
Maksud al-qiyamu binafsi bukan berarti Allah berdiri yang asalnya tidak ada kemudian dengan sendirinya menjelma, tetapi berdiri dengan dzat-Nya sendiri, berupa adanya Allah tidak membutuhkan yang menciptakan, adanya Allah tidak membutuhkan yang menentukan, dan adanya Allah tidak membutuhkan tempat untuk menetap.
Tidak butuhnya tempat bagi Allah itu menjauhkan sifat kemustahilan dari pertanyaan dimana, yang berhubungan dengan depan, belakang, kiri, kanan, atas, bawah, luar, dalam, menempel, dan berpisah. Hal demikian untuk menjadi parameter bahwa Allah benar-benar tidak membutuhkan tempat, sedangkan dalil-dalil dalam Al-Qur’an itu bersifat mutasyabihat yang tidak dapat menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.
1. Jika Allah bersemayam di arsy, maka arsy itu harus bersifat lebih duluan dari adanya Allah. Bagaimana Allah ketika arsy belum diciptakan?
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (Surat Thaha ayat 5)
2. Jika Allah berada di langit, bagaimana dengan di bumi? Jika Allah berada di bumi, bagaimana dengan di langit? Padahal diriwayatkan bahwa setiap sepertiga malam terakhir Allah turun ke langit bumi.
وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَٰهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَٰهٌ ۚوَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ (Surat Az-Zukhruf ayat 84)
3. Jika manusia menghadapkan diri ke manapun, maka di situlah wajah Allah. Dalil ini seolah menjadi penguat bahwa Allah ada di mana-mana. Dan itu adalah kemustahilan yang tidak sesuai sifat Qiyamu Binafsi.
وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ إِنَّ اللّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (Surat Al-Baqarah ayat 115)
4. Jika hamba-Nya bertanya tentang Dia, maka Rasulullah mendapatkan wahyu bahwa Allah itu lebih dekat daripa urat leher manusia.
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (Surat Qaaf ayat 16)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ (Surat Al-Baqarah ayat 186)
5. Allah itu bersama kamu di mana saja kamu berada.
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚوَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (Surat Al-Hadid ayat 4)
Perbedaan pemaknaan dari beberapa dalil terkait keberadaan Allah, ulama Asy’ariyah menjelaskan bahwa terdapat makna qorib (denotatif) dan makna ba’id (konotatif). Hal ini sebagaimana di masyarakat umum bisa disebutkan ada orang yang panjang tangan karena memang asli tangannya panjang, namun istilah panjang tangan juga diartikan sebagai orang yang suka mencuri. Hal tersebut juga sama ketika menyebutkan yang di atas, yang dapat diartikan sebagai penunjuk arah dan pada sisi lainnya adalah kekuasaan yang paling berkuasa.
TMR Kalisuren, 10 Juni 2016, Pukul 05:15 - 05:50
Kitab Tijan Durori, fasal Sifat Qiyamu Binnafsi
Mukhalafatu Lil Hawaditsi
Pengajian Ba'da Subuh Ramadhan
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى اَلْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ وَمَعْـنَاهُ أَنَّـهُ تَعَالى لَيْسَ مُمَـاثِلاً لِلْحَوَادِثِ فَلَيْسَ لَهُ يَدٌ وَلاَ عَيْنٌ وَلاَ أُذُنٌ وَلاَ غَيْرُ ذَلِكَ مِنْ صِفَـاتِ الْحَوَادِثِ وَضِدُّهَا الْمُمَاثَلَةُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُمَاثِلاً لِلْحَوَادِثِ لَكَانَ حَادِثًا وَهُوَ مُحَالٌ
Dan wajib dalam haqnya Allah yaitu sifat Mukholafatu lil Hawaditsi. Arti sifat ini adalah Allah tidak ada keberadaanNya menyerupai atas perkara yang baru. Maka dari itu, Allah mustahil disifatkan Mumatsalah Lil Hawadits (sama dengan makhluk yang baru) seperti memiliki tangan, mata, telinga, dan perkara yang seperti sifat-sifat baru.
ليس كمثله شئ وهو سميع البصير (الشورى : ١١
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Asy-Syura: 11)
“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya” (QS Al-Ikhlash: 4)
Mushannif (Imam Nawawi Al-Bantany) memberi contoh bahwa terhadap Alloh tidak ada tangan, tidak ada mata, tidak ada telinga dan tidak ada perkara yang sejenisnya.
Apabila ada (nash) dalam alqur’an atau dalam al-hadits yang "cenderung" atau "hampir", bahwa Allah menyerupai makhluk, hal tersebut ada dua sorotan:
1. Menurut ulama kholaf, (nash) al-qur’an dan al-hadits mesti di(ta’wil), dengan kata lain mesti disalurkan dengan makna yang layak terhadap Allah.
2. Menurut ulama salaf, (nash) al-qur’an dan al-hadits mesti di(tawidl), dengan kata lain nash ini mesti dibekukan serta diserahkan kepada Allah maknanya, karena khawatir menyalahi makna serta tujuannya (nash) tersebut.
Contoh nash yang menyerupai terhadap Allah, yaitu
yadulloh, asal arti tangan Allah
ainulloh, asal arti mata Allah
wajhulloh, asal arti wajah Allah.
Kita ambil perumpamaan matahari dan bulan.
Pada malam hari kita melihat bulan bersinar menyinari bumi. Sinarnya masuk ke dalam lubang ventilasi rumah, kemudian mengenai cermin almari dan selanjutnya oleh cermin tersebut sinar bulan dipantulkan ke lantai. Lantai akan menjadi terang karenanya.
Lantai menjadi terang karena pantulan cahaya cermin, cermin bersinar karena cahaya bulan, sedangkan bulan memantulkan cahaya dari matahari. Dalam hal ini matahari kita sebut sebagai sumber cahaya yang pertama, sedangkan bulan yang kedua, cahaya cermin hanya merupakan bias saja dari cahaya matahari.
Samakah cahaya bulan, cahaya cermin dengan cahaya matahari yang medrupakan sumber cahaya? Tidak.
Bahkan bulan dan cermin pada hakikatnya tidak memiliki cahaya. Cahaya bulan dan cermin adalah milik matahari. Maka salahkah jikalau ada orang yang berkata: “ Sebenarnya yang menyinari lantai bukan cermin ataupun bulan, melainkan matahari.”
Cahaya matahari dalam perumpamaan di atas disebut cahaya hakiki sedangkan cahaya selainnya disebut cahaya majazi. Dalam perumpamaan di atas bisa kita kembangkan lebih jauh lagi. Sinar matahari bisa dimanfaatkan berbagai keperluan. Seperti dijadikan penggerak mobil tenaga surya, kalkulator dan lain-lain. Hakikat sinarnya tetap satu tidak berubah-ubah. Tetapi bentuk pancarannya bermacam-macam.
Intinya tetap satu yang tidak bisa diserupakan, yaitu Tenaga Inti Matahari. Jadi yang berbeda satu sama lain adalah bentuk pancarannya.
TMR Kalisuren, 9 Juni 2016, pukul 05:10 - 05:45 WIB
Tijan Durori Fasal sifat Mukholafatu Lil Hawadisi
Rabu, 08 Juni 2016
Qidam dan Baqa' Allah
Sifat Wajib Allah, Qidam dan Baqa'
وَيَجِبُ الْقِدَمُ وَمَعْـنَاهُ أَنَّـهُ لاَ أَوَّلَ لَهُ تَعَالى وَضِدُّهُ الْحُدُوْثُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ حَادِثًا لاَحْتَاجَ اِلَى مُحْدِثٍ وَهُوَ مُحَالٌ وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى أَلْبَقَاءُ وَمَعْـنَاهُ أَنَّـهُ تَعَالى لاَ آخِرَ لَهُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ فَانِيًا لَكَانَ حَادِثًا وَهُوَ مُحَالٌ
Dan wajib sifat Qidam (terdahulu) dalam haq Allah. Artinya tiada permulaan bagi Allah. Lawannya berupa sifat Hudust (baru). Dan dalil atas sifat Qidam yaitu jika Allah merupakan sesuatu yang baru, maka tentu Allah membutuhkan terhadap pembaharu. Dan itu mustahil.
Dan wajib sifat Baqa' (kekal) dalam haq Allah. Artinya Allah tiada akhirnya. Dan dalil atas sifat Baqa' Allah yaitu jika Allah merupakan sesuatu yang Fana (rusak), maka tentu Allah merupakan sesuatu yang baru. Dan itu mustahil.
Secara harfiyah, Qidam memiliki 3 pengertian:
1. Qidam idhofi, adanya sesuatu setelah adanya sesuatu. Seperti ayah adalah qadim dari anak
2. Qidam zamani, sesuatu sdh lama ada dari yang sebelumnya tidak ada. Seperti alam semesta yang awalnya tidak ada
3. Qidam Dzati, yaitu sesuatu yang tidak diawali dengan tidak ada, dan tidak terikat zaman. Qidam-nya Allah SWT.
Dengan demikian bahwa Allah itu Qidam (tiada permulaan wujud-Nya).
HIKMAH dan ATSAR:
Seorang Atheist (kafir) datang kepada Imam Abu Hanifah lalu bertanya: “Tahun berapa Allah itu berada?
Abu Hanifah menjawab: “Allah berada sebelum adanya tahun, tidak berawal dalam wujud-Nya.”
Orang kafir itu bertanya lagi: “Berikan kepada kami contoh”
Beliau menjawab: “Angka berapa sebelum empat?
Ia berkata: “Tiga”
Abu Hanifah bertanya lagi: “Angka berapa sebelum tiga?”
Ia menjawab: “Dua”
Abu Hanifah bertanya lagi: “Angka berapa sebelum dua?”
Ia memjawab: “Satu”
Abu Hanifah betanya lagi: “Angka berapa sebelum satu?”
Ia berkata: “Tidak ada sesuatu sebelum angka satu”
Lalu Abu Hanifah berkata: “Kalau tidak ada sesuatu sebelum satu. Maka Allah itu esa tidak ada yg mengawali dalam wujudnya.”
Lalu orang kafir itu bertanya lagi pertanyaan kedua: “Kemana Allah itu berpaling?”
Abu Hanifah menjawab: “Kalau anda menyalakan pelita di tempat yang gelap, kemana cahaya pelita itu berpaling?
Ia menjawab: “Ke setiap penjuru”
Abu Hanifah berkata: “Kalau cahaya pelita berpaling ke setiap penjuru, bagaimana halnya dengan cahaya Allah, pencipta langit dan bumi.”
Lalu orang kafir itu bertanya lagi dengan pertanyaan ketiga: “Terangkan kepada kami tentang dzat Allah. Apakah Ia jamad seperti batu, atau cair seperti air, atau Ia berupa gas?”
Abu Hanifah menjawab: “Apakah anda pernah duduk di muka orang yang sedang sakarat?”
Ia menjawab: “Pernah”
Abu Hanifah bertanya: “Apakah ia bisa bercakap setelah mati?”
Ia menjawab: “Tidak bisa”
Lalu beliau bertanya lagi: “Apakah ia bisa berbicara sebelum mati?”
Ia menjawab: “Bisa”
Lalu Abu Hanifah bertanya lagi: “Apa yang bisa merubahnya sehingga ia mati?”
Ia menjawab: “Keluarnya ruh dari jasadnya”
Abu Hanifah mejelaskan: “Oh kalau begitu keluarnya ruh dari jasadnya membuatnya ia tidak bisa berbicara?
Ia menjawab: “Betul”
Abu Hanifah bertanya: “Sekarang, terangkan kepada saya bagaimana sifatya ruh, apakah ia jamad seperti batu, atau cair seperti air, atau ia seperti gas?
Ia menjawab: “Kami tidak tahu sama sekali”
Abu Hanifah menjawab: “Jika ruh sebagai makhluk Allah, kamu tidak bisa mensifatkanya, bagaimana kamu ingin aku mensifatkan kepada kamu dzatnya Allah.
TMR Kalisuren, 8 Juni 2016 - 3 Ramadhan 1437 H
Kitab Tijan Darori, fasal sifat Qidam dan Baqa'
Penjelasan tambahan dari Atsar Abu Hanifah
Langganan:
Postingan (Atom)