Mari Makmurkan Masjid dengan Sholat Berjamaah di Masjid

Jumat, 19 Agustus 2016

MTQ dan Ulama Bela Negara

Perhelatan akbar tentang kemampuan di bidang Qur'an sedang berlangsung di Lombok, NTB, pada 30 Juli sampai 6 Agustus. Daerah yang seringkali disebut dengan Kota Seribu Masjid, sepadan dengan Kairo yang identik dengan Kota Seribu Menara.
Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) merupakan even yang mula-mula diadakan oleh Nahdlatul Ulama (NU) melalui Jamiyatul Qurra' wal Huffadz (JQH) yang tersebar di berbagai daerah pada masa 1940. Oleh Menteri Agama saat itu, KH. Wahid Hasyim yang juga ayahnya Gusdur, JQH dipersatukan melalui kongres nasional pada 1953. Hal ini tentu dipengaruhi semakin kerasnya pertarungan ideologi kelompok nasionalis, agamais, dan komunis.
MTQ baru terlembagakan secara resmi di era Menteri Agama yang sekaligus pengurus PBNU, KH. Muhammad Dahlan pada 1967-an. Perhelatan MTQ dengan biaya pemerintah ini diprakarsai pula oleh Prof. KH. Ibrahim Hossen, yang pada 1970 mendirikan Perguruan Tinggi Ilmu Qur'an (PTIQ) dan Institut Ilmu Qur'an (IIQ) bersama para tokoh seperti Prof. Mukti Ali.
Sejarah mencatat bahwa organisasi di luar NU, pernah mengharamkan penyelenggaraan MTQ, berdalih sebagai praktik bid'ah yang tidak pernah dilakukan Nabi. Namun NU dan pemerintah tetap komitmen dan konsisten menyelenggarakan secara periodik. Hasilnya, kini hampir semua organisasi Islam berkeinginan kadernya dapat mengikuti MTQ Nasional, bahkan "latah" membuat ajang kompetisi hafidz Qur'an dengan beragam tingkatan.
Setidaknya ada tiga misi utama awal mula perhelatan MTQ.
Pertama, simbol syiar Islam. MTQ menjadi basis mengenalkan Qur'an kepada semua lapisan masyarakat sekaligus wujud kesatuan dan kebersamaan umat. Qur'an bukan sekadar kitab suci agama, tapi perekat dalam relasi sosial yang senyatanya.
Kedua, standardisasi pembelajaran Qur'an pada masyarakat muslim. Hal ini dapat dilihat dari ragam kategori yang diujikan. Misalnya kategori tilawah yang memiliki unsur Qiroah mujawwad (seni baca) dan murotal (tajwid) dengan tujuh nagham (langgam), tentu dapat menjadikan pembelajaran Qur'an bukan sekadar membaca tetapi ada nilai estetika dengan berkembangnya lagu bayyati, shoba, nahawand, hijaz, rost, sika, jiharka, dan kemudian dihadirkan adanya langgam Jawa. Termasuk kategori cerdas cermat, tafsir atau syarkhil Qur'an, kaligrafi, dan hiasan mushaf yang kesemuanya akan memiliki standar mutu yang sama.
Ketiga, upaya bela negara dengan aksi perlawanan ideologi radikal transnasional. MTQ pada masa awalnya, 1967, adalah kampanye santun "bersih-bersih" dari pengaruh komunisme menuju masyarakat religius. Dan dalam perkembangannya, MTQ dalah bagian dari forum penguasaan metodologi penafsiran yang dapat menggelorakan pemikiran-pemikiran praksis moderatisme (wasathiyah).
Banyak hal menarik pada perhelatan MTQ ke-26. Kegiatan berlangsung di kota islami Lombok, yang dipimpin oleh Gubernur "Tuan Guru Bajang" KH. TGH. Muhammad Zainul Majdi. Sosok muda 44 tahun, yang hafal Qur'an, menguasai penafsiran dengan raihan gelar doktor ilmu tafsir dari Universitas Al-Azhar, Kairo, dan sudah memimpin dua periode. Kesantunan dan keshalihannya telah menggabungkan dua peran sekaligus, peran ulama dan peran umara'.
Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan MTQ, Jamiyah Ahli Thariqoh Muktabarah An-Nahdhiyyah (JATMAN) sebagai wadah ulama sufi NU mengadakan konferensi internasional moderatisme Islam. Konferensi yang melibatkan sekitar 300-an ulama dari 30 negara ini menggagas wacana Islam moderat sebagai basis bela negara. Perlu adanya peningkatan peran ulama dalam mengembangkan nasionalisme, kebangsaan, dan perdamaian.
Sambung menyambung, MUI bekerjasama dengan Liga Muslim Dunia pun mengadakan konferensi moderatisme Islam dalam menangkal terorisme dan radikalisme. Muslim Nusantara ingin mengajari dunia bagaimana kita berbangsa dan bernegara yang damai, tanpa memperdebatkan antara Islam dan Demokrasi, antara Islam dan Pancasila. Lagi-lagi, itu dihelat sampai 1 Agustus, di Lombok, NTB, dengan gubernur muda yang hafal Qur'an dan menguasai pemaknaan tafsirannya.
Muh. Khamdan
Bogor, 29 Juli 2016.
Posting Komentar