Mari Makmurkan Masjid dengan Sholat Berjamaah di Masjid

Jumat, 19 Agustus 2016

Pemimpin Melayani

Untuk kesekian kali menyampaikn tema betapa pentingnya sosok pemimpin yang berjiwa melayani. Penting karena hakikat pemimpin adalah pelayan, sebagaimana ditunjukkan Yesus dalam jamuan terakhir dengan 12 muridnya yang rela membasuh kaki mereka.
Terasa berbeda materi ini disampaikan, jika peserta sebagian besar adalah para kepala kantor kementerian agama kabupaten/kota, pimpinan manajemen keagamaan level eselon 3 seluruh Indonesia. Belum lagi para eselon 3 dari berbagai perguruan tinggi islam negeri, yang kiranya sangat mafhum tentang dogma kepemimpinan.
Pemimpin adalah orang yang bisa mempengaruhi, bisa mengajak, dan mampu mendeskripsikan keadaan organisasi di masa depan terhadap orang lain. Khalifah Umar dalam nasehatnya kepada sahabat Mughirah menyampaikan agar pemimpin itu dekat dengan rakyat, dan mampu menjadikan orang yang tidak salah aman sedangkan menjadikan orang yang salah tidak aman.
Pemimpin yang dapat melayani itu, selain dekat dengan rakyat tentunya juga bukan yang arogan. Sahabat Mu'awiyah berujar "Aku tidak akan menggunakan pedangku, jika dengan cambukku sudah cukup. Aku tidak akan menggunakan cambukku, jika dengan lisanku sudah cukup". Inilah hakikat ketegasan pemimpin yang tidak arogan.
Bagaimana sesungguhnya karakter kepemimpinan dalam Islam? Tentu akan beragam pendapat karena banyaknya lokus keislaman sekaligus banyaknya varian pemahaman. Badiuzzaman Said Nursi dalam tafsirnya terhadap surat Al-Fath ayat 29 mendeskripsikan 4 (empat) kategori.
Pertama, Setia (Alladzina Ma'ahu). Dialah sosok Abu Bakar sahabat paling setia di sisi Rasulullah. Kesetiannya pada amanah-amanah yang dititipkan menjadikan gelar Ash-shiddiq disandangnya, seiring sikapnya yang selalu membenarkan Rasulullah.
Kedua, Tegas terhadap penyimpangan (asyiddau alalkuffar). Dialah sosok Umar Al-Faruq sahabat yang paling tegas. Sikap tegasnya bukan sekadar untuk rakyat biasa, tetapi juga bagi keluarga dan para sahabat Nabi yang lain. Di sinilah semua orang mendapat jaminan kepastian hukum.
Ketiga, Lemah lembut (ruhamau bainahum). Sosok ini sesuai pada sahabat Utsman bin Affan yang sangat dermawan dan lembut pada semua kalangan, serta pemaaf dan penuh sikap bijak.
Keempat, shalih individu dan shalih sosial (tarahum rukka'an sujjadan yabtaghuna fadhlan minallah). Kategori ini sesuai dengan sahabat Ali bin Abi Thalib yang tidak lagi mengenal dikotomi amal, tetapi mampu memadukan peran sebagai ulama dan umara sekaligus.
Keempat kriteria dengan sejumlah penjelasan biografi para sahabat tentu menjadi pedoman konseptualisasi kepemimpinan khulafaur rasyidin.
Bagaimana kearifan lokal kepemimpinan Nusantara? Setidaknya ada 3 (tiga) budaya luhur bangsa Indonesia yang menyiratkan makna pelayanan.
Pertama, dalam sejarah para raja Nusantara berkembang konsep politik "Manunggaling Kawula Gusti". Konsep ini menegaskan bahwa pemimpin harus dekat dan menyatu dengan rakyat. Pemimpin memiliki rasa empati yang tinggi dengan berbaur seperti adanya prosesi Grebeg Syawal, Sekaten, dan Dugderan. Para Raja juga berusaha mendekatkan diri pada Tuhan, sehingga Ken Arok mnyematkan diri sebagai titisan Dewa Syiwa. Airlangga berkedudukan di Kadiri menisbatkan diri sebagai titisan Wisnu. Raden Wijaya sebagai pendiri Majapahit mengkombinasikan antara Syiwa dan Wisnu sekaligus. Raja Islam pertama Jawa di Era Walisongo digelari Fatah, yang tak lain adalah Nama Allah. Sampai pada Raja Mataram yang disebut Sayyidin Panoto Gomo khalifatullahi Akbar, yang tak lain adalah nama Tuhan dan dikenal masyarakat dengan sebutan Sultan Agung.
Kedua, kearifan lokal atas lingkungan dengan konsep Hasta Brata (8 jalan kebenaran). Jalan trsebut menggunakan simbolisasi alam, seperti matahari yang menjadi komandan capaian kerja, bumi sebagai sumber curhat, bulan, bintang, api, air, samudra, dan angin.
Ketiga, Trilogi Kepemimpinan ala Ki Hajar Dewaatara. Ing Ngarso sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Pemimpin itu menjadi teladan, motor penggerak integritas, sekaligus menampung kritik dan aspirasi rakyat.
Tiga model karakter kepemimpinan yang melayani itu, tidak perlu merujuk pada teori leadership kebarat-baratan, karena leluhur Nusantara sudah mewariskan budaya yang maha agung.
Tak terasa sharing konsep dan aktualisasi para pemimpin di lingkungan Kemenag telah membuka tabir-tabir budaya nenek moyang. Konteks dogma religius terurai, konteks antropologis terjawab, dan konteks politik identitas tersusun sistematis guna menjadi bahan internalisasi.
Ach, semoga bukan sekadar ramai di kelas, tetapi dapat ramai juga terwujud pemimpin yang benar-benar melayani sepenuh hati.
Muh. Khamdan
Pusdiklat Kemenag Ciputat, 25 Juli 2016.
Posting Komentar