Mari Makmurkan Masjid dengan Sholat Berjamaah di Masjid

Jumat, 19 Agustus 2016

Politik Anti Tembakau

POLITIK ANTI TEMBAKAU Menggugat Bahaya Rokok
Merokok dapat mnyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Demikian kalimat propaganda yang tertulis di dalam bungkus rokok atau apapun yang berhubungan dengan rokok. Setelah lama waktu tidak juga mengurangi penurunan jumlah perokok, maka tagline berganti menjadi Rokok Membunuhmu. Terbuktikah?
Penulis Amerika, Wanda Hamilton dalam bukunya berjudul Nicotine War diterbitkan INSIST Press, menjelaskan dengan sangat rinci motif-motif yang mndasari larangan tembakau. Bisnis industri farmasi yang ingin membunuh industri tembakau secara global. Industri itu terkait peran permen karet Nicorette, koyok Nicoderm, Nicotrol, dan Zyban.
Gencarnya perang global melawan tembakau diprakarsai oleh WHO dalam kebijakan "Health for All in the 21st Century" pada Mei 1998. Proyek ini disponsori tiga korporasi farmasi, yaitu Pharmacia, Novartis, dan Glaxowelcome yang kmudian membentuk konsorsium Nicotine Replacement Treatment (NRT).
Benarkah rokok berbahaya sebagaimana dalam bunyi peringatan? Masyakat NUsantara sudah membuktikan diri bahwa orang-orang di kampung adalah perokok aktif, usianya panjang sampai di atas 60 tahun, dan memiliki banyak anak. Bagaimana calon perokok percaya bahwa rokok itu berbahaya jika eyang bunyutnya, kakeknya, bapaknya, saudaranya, temannya semua merokok, dan tidak menunjukkan keadaan bahaya seperti yang dikampanyekan.
Rokok sudah menjadi bagian kebudayaan Indonesia yang tidak terpisahkan. Budaya rokok melahirkan produk asli NUsantara berupa rokok kretek. Jika reog dan wayang diklaim bangsa lain maka serentak masyarakat emosional, tetapi justru budaya rokok kretek ingin dihapuskan bahkan dikampanyekan dengan beragam cara termasuk fatwa haram.
Kretek, rokok yang dibuat dari daun tembakau kering dengan saus cengkeh dan saat dihisap berbunyi kretek-kretek. Ini lahir dari Kudus, Jawa Tengah, yang diprakarsai Haji Djamari pada 1800-an. Melinting langsung daun tembakau sudah terjadi turun temurun, oleh Haji Djamari dimodifikasi dengan racikan cengkeh. Awalnya ia sakit dibagian dada sehingga diolesi terus dengan minyak cengkeh, kemudian reda dan kambuh lagi. Maka inovasi meracik cengkeh dengan tembakau model rokok dilakukannya sebagai terapi, dan sembuh. Sosok ini meninggal sekitar 1890.
Penemuan Haji Djamari dikembangkan dalam komoditas dagang oleh Nitisemito pada 1906 dengan merek "Tjap Bal Tiga" di Kudus. Bergeliatlah industri rokok yang disuplai dari gunung Sumbing, Sindoro, Perahu, Malang, Kediri, Surabaya, dan lainnya.
Muncul penelitian ilmiah Profesor Sutiman, ahli biologi Universitas Brawijaya yang mengembangkan hasil penelitian Dr. Gretha Zahar. Istri Prof Sutiman yang mengidap kanker payudara diterapi dengan kretek mengalami kesembuhan. Kretek itu disebut Divine Kretek, karena mengandung protein, asam amino, dan zat-zat yang dapat mengganti sel-sel tubuh mati.
Kretek bukan rokok, karena dibuat dengan racikan tembakau bunga cengkeh dan saus. Sedangkan rokok hanya daun tembakau. Di sinilah perlu difahami bahwa, masyarakat santri, ulama NUsantara merokoknya dengan kretek bukan rokok putih.
Industri kretek bergerak atas lini tangan tangan rakyat petani tembakau, sedangkan rokok putih sebagai rokok imitasi tembakau digerakkan oleh industri global. Pertanyaannya, mana yang lebih benar dapat menyebabkan serangan jatung, paru-paru, dan gangguan kehamilan atau janin?
Tanyalah pada eyang kakung yang umur sudah 60an tahun masih perkasa menyangkul sambil hembus kretek dan menyrutup kopi. Duh nikmatnya....
Selamat merokok kretek..
Muh. Khamdan
Depok, 14 Juli 2016, pukul 12:35 WIB.
Posting Komentar