Mari Makmurkan Masjid dengan Sholat Berjamaah di Masjid
Tampilkan postingan dengan label Nashoihul Ibad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nashoihul Ibad. Tampilkan semua postingan
Jumat, 19 Agustus 2016
Tirakatan Kemerdekaan
Dekat Ulama Untuk Keberkahan Negara
Pengajian Kitab Nashoihul Ibad, bab Tsunai pada Maqolah 2-3.
di Masjid Tjitra Mas, Bogor, 14 Agustus 2016
Oleh. Ustadz Muh. Khamdan, MA.Hum
Sudah menjadi bagian dari kegiatan memperingati hari kemerdekaan pada sekelompok masyarakat Indonesia adalah Malam Tirakatan. Kegiatan di malam tanggal 17 Agustus yang dilakukan dengan beragam acara. Ada yang dengan doa bersama, ada yang mengenang cerita perjuangan masa lalu melalui cerita para saksi sejarah atau veteran, dan ada juga yang melakukan dengan makan bersama seluruh masyarakat.
Tirakatan sesungguhnya proses untuk mengintrospeksi diri melalui upaya kembali pada jalan yang benar. Oleh karena itu, tirakatan dimaksudkan sebagai proses membuka kembali tujuan hidup. Kata tirakatan sendiri berasal dari kata Arab, Thariqatan atau Thariqah dengan asal kata Thariq yang memiliki arti jalan. Dengan demikian terdapat titik temu bahwa acara Malam Tirakatan yang dilakukan para sesepuh masyarakat memiliki maksud untuk mengukur capaian-capaian tujuan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Apa sesungguhnya tujuan hidup bersama itu?
Para pejuang bangsa selalu memiliki tujuan untuk hidup mulia atau mati syahid. Menjadi mulia adalah hidup dengan kemandirian di segala bidang, yang kemudian diwujudkan dalam konsep trisakti berupa mandiri di bidang ekonomi, mandiri di bidang politik, dan mandiri di bidang budaya. Kini di setiap jelang hari kemerdekaan, masih saja terasakan keadaan bangsa yang masih jauh dari keadaan mandiri, bahkan seolah hilang dari makna keberkahan.
Rasulullah SAW bersabda bahwa "Akan tiba suatu masa pada Umat Nabi Muhammad yang saling menjauh dari ulama dan ahli fiqih. Maka Allah akan memberi 3 jenis cobaan, yaitu hilangnya keberkahan ekonomi, berkuasanya pemimpin yang dzalim, dan meninggal tanpa membawa iman". Hadis ini kiranya kontekstual dengan kondisi berbangsa dan bernegara, yang sengaja atau tidak sengaja telah menjauhkan peran dan posisi ulama.
Masyarakat semakin bingung dengan kriteria ulama yang harus diteladani. Satu sisi seringkali muncul ulama yang lebih politis daripada politisi itu sendiri, pada sisi yang lainnya juga tampil lebih dari sekadar selebritis yang dilahirkan dari infotainment media. Bahkan muncul pula ulama yang berperan sebagai polisi swasta dengan terlalu mudah menuduh kafir, sesat, bid'ah, dan orang lain masuk neraka. Sosok ulama yang sesungguhnya sudah semakin bias, seiring masyarakat yang semakin menjauh dari ulama untuk belajar agama secara langsung dan digantikan belajar dari google maupun youtube. Tak heran jika yang berkembang dalam model keberagamaan semacam ini adalah menganggap orang lain salah, sesat, dan pudarnya sikap toleran.
Sejarah perjuangan bangsa seolah juga telah menjauhkan dari peran ulama dan santri. Seorang pejuang ulama bernama KH. Abdul Hamid yang lahir di Tegalrejo, Magelang, misalnya, telah melakukan aksi perlawanan terhadap kolonial Belanda sepanjang 1825-1830. Aksi gerilya yang dilakukan sepanjang karesidenan Kedu (Temanggung, Magelang, Wonosobo, Purworejo, Kebumen) menjadikan kas Belanda bangkrut. Sosok keturunan Hamengkubuwono ke-3 ini dikenal dengan Pangeran Diponegoro.
Seorang mursyid Thariqah Qadiriyah yang selalu mengenakan sorban putih ini memiliki nama lengkap KH. Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Sayyidin Panotogomo Amirul Mu'minin Khalifatullah Tanah Jawi. Dimakamkan di Makasar, Sulawesi Selatan. Dalam salah satu rumah di Magelang, Pangeran Diponegoro menyimpan 3 buah peninggalannya, yaitu Qur'an, tasbih, dan kitab Taqrib (Fathul Qarib). Hal ini menunjukkan bahwa pribadi sang Mursyid Thariqah ini adalah muslim ahli dzikir sekaligus bermazhab Syafi'i, sebagaimana keberadaan kitab kuning yang ditulis Imam Abi Syuja' Al-Isfahany dan menjadi kitab dasar bagi santri pemula di pesantren-pesantren NUsantara sampai saat ini.
Sejarah santri juga menjauh dari sosok Raden Ajeng Kartini. Perempuan yang lahir di Mayong, Jepara ini adalah murid dari KH. Shaleh Darat. RA. Kartini yang belum mengetahui makna Al-Qur'an meminta agar gurunya tersebut bersedia menuliskan tafsir untuk menjelaskan Al-Qur'an dengan bahasa Jawa bertuliskan Arab pegon. Oleh karena itu, muncullah Tafsir Qur'an berbahasa jawa untuk pertama kali di NUsantara yang diberikan oleh KH. Shaleh Darat sebagai hadiah pernikahan RA. Kartini. Dari sini selalu diungkapkan oleh Kartini dari Surat Al-Baqarah ayat 257 "minaddzulumati ilannur" atau dari gelap menuju terang benderang, yang kemudian dikenal Habis Gelap Terbitlah Terang.
Wujud nasionalisme keagamaan juga dilakukan oleh keturunan Rasulullah dari Kauman Semarang, Habib Husein Al-Muthahar. Sayyid Husein ini menjadi pengarang lagu Syukur dan lagu yang setiap hari kemerdekaan dinyanyikan masyarakat berbunyi:
17 Agustus Tahun 45
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka Nusa dan Bangsa
Hari lahirnya Bangsa Indonesia
Merdeka...
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia, tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia, tetap setia
Membela Negara kita.
Pesan Nabi bahwa Allah akan menguji umatnya jika menjauh dari ulama, kiranya perlu menjadi perenungan bersama. Jika bukan hilang keberkahan ekonomi, bisa jadi ujian yang Allah berikan di pertambahan tahun kemerdekaan adalah pemimpin dzalim yang menjadikan negara dan masyarakat salah urus.
Shalih Pribadi dan Shalih Sosial
Pengajian Kitab Nashoihul Ibad, bab Tsuna'i, maqalah kesatu.
di Masjid Tjitra Mas Residence- Bogor, 7 Agustus 2016.
Oleh Ustadz Muh. Khamdan, MA.Hum
Dalam segala perintah Allah, akan selalu berkaitan dengan dua hal yaitu mengagungkan Tuhan dan amanat untuk welas asih pada semua makhluknya. Di sinilah muncul rumusan bahwa seseorang harus melaksanakan laku shalih pribadi dan shalih sosial. Shalih adalah laku yang memiliki manfaat dan kebaikan.
Sholih pribadi terkait dengan ketekunan ibadah dan keimanan seseorang pada Tuhan. Shalih pada peran ini tentu fokus pada pengagungan Allah, yang bisa jadi belum memiliki manfaat bagi orang lain. Sholat misalnya, kenikmatannya tentu hanya dirasakan bagi yang sholat. Puasa misalnya, pahalanya pun hanya dikhususkan bagi orang yang puasa. Ibadah-ibadah yang fokus pada Tuhan sesunggguhnya hanya mengagungkan Allah semata.
Bisa jadi, orang mengejar berulangkali berangkat haji tapi melupakan kemiskinan atau tingkat kelaparan tetangga sekitarnya. Berulangkali umrah, tetapi mengabaikan tingkat pendidikan masyarakat sekitar yang terhimpit ekonomi sehingga putus sekolah. Bahkan, jika sedang terburu-buru berangkat ke masjid untuk shalat jumat namun di jalan berjumpa orang yang mengalami kecelakan, maka memunculkan kegamangan apakah tetap melanjutkan sholat jumat atau membantu kecelakan untuk mengantar korban ke rumah sakit. Bagi yang mementingkan sholih individu tentu akan "egois" jumatan, haji, dan umrah.
Shalih pribadi penting ketika diinteraksikan dengan orang lain. Sholat yang dilakukan sendiri hanya dinikmati sendiri, sehingga sangat dianjurkan berjamaah untuk dapat menghargai perbedaan dan menumbuhkan empati pada orang lain. Tidak sekadar rajin ibadah tetapi mengabaikan peran dan posisi orang lain, sebagaimana dianjurkannya berjamaah untuk tidak menjadi egois atau masuk surga sendiri
Pada tataran shalih sosial, seseorang bukan hanya melaksanakan ritual pengangungan terhadap Tuhan tetapi juga memperhatikan sisi kemanusiaan dengan makhlukNya. Konteks ini menganjurkan terwujudnya kolektivitas ibadah yang berfungsi sebagai perwujudan rahmatan lil alamin bagi semua makhluk.
Ketika Allah memerintahkan hambaNya berbuat baik, sesungguhnya mengingatkan untuk berbuat welas asih dan bersikap sesuai naluri manusia atau manusiawi. Perintah Allah bukanlah untuk kepentingan Allah tetapi untuk kebaikan manusia sendiri.
Rasulullah bersabda "Barangsiapa pada pagi hari berniat untuk tidak mendzalimi orang lain maka diampunilah dosa orang tersebut, serta yang berniat memberikan manfaat dengan memenuhi hajat atau menyenangkan orang muslim maka seolah-olah mendapatkan pahala haji mabrur". Hadis ini mengamanatkan bahwa lebih utamanya shalih sosial daripada sekadar ritual ibadah pribadi. Hal ini lebih dijelaskan dalam hadis lain bahwa "Allah lebih mencintai hambaNya yang bermanfaat bagi orang lain, dan amal yang paling baik adalah menyenangkan hati orang lain dengan menghilangkan kesusahan orang lain".
Oleh karena itu Allah bukan sekadar disembah-sembah, tetapi justru menyukai seseorang yang bisa membahagiakan orang lain, atau bukan sekadar shalih pribadi tetapi juga shalih sosial.
Pembukaan Pengajian Kitab Nashoihul Ibad, bab Muqaddimah.
(Muqoddimah Nasehat-Nasehat Bagi Ahli Ibadah)
Oleh Ustadz Muh. Khamdan, MA.Hum
Ahad malam Senin bakda Maghrib, Masjid Tjitra Mas Residence, 31 Juli 2016.
Kitabnya tipis dengan 80 halaman, tetapi mengandung amanat pesan yang sungguh luar biasa. Itulah Kitab Nashoihul Ibad, yang ditulis oleh ulama Nusantara, Nawawi Al-Bantany pada tahun 1800-an. Ulama yang juga menjadi bagian dari imam tanah haromain ini dimakamkan di pemakaman Baqi', Madinah. Tempat keluarga besar Nabi dimakamkan, dari ummul mukminin Aisyah, Fatimah, Hasan bin Ali, Ali bin Husain, Ibrahim bin Muhammad, Halimah Sya'diyah, Abbas bin Abdul Mutholib, sampai sahabat Utsman bin Affan dan Abdurrahman Auf.
Kitab Nashoihul Ibad sesungguhnya penjelasan dari kitab yang ditulis oleh Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalany (773 H) atau 700 tahun yang lalu. Berisikan pembahasan 214 hadis, yang terbagi atas 10 bagian sesuai jumlah perkara dari masing-masing hadis.
Ibnu Hajar Al-Asqalany sendiri adalah ulama yang lahir di daerah Asqalan, Mesir. Mendapatkan gelar Al-Hafidz karena hafal 100 ribu hadis beserta isi hadisnya (dirayah) dan pribadi-pribadi orang yang meriwayatkan hadis (riwayah). Gelar yang di zaman modern ini hanya disandang oleh Habib Umar bin Hafidz dari Yaman, guru dari Habib Mundzir Al-Musawa, pimpinan Majelis Rasulullah Jakarta.
Dalam ilmu hadis, penguasaan terhadap tingkat kehafalan hadis dari sisi dirayah dan riwayah memiliki kategorisasi sendiri.
Pertama, amirul mukminin. Gelar ini diperuntukkan bagi kalangan sahabat yang meriwayatkan hadis dari Nabi secara langsung, dan juga untuk kelompok setelahnya yang masih bertemu langsung dengan sahabat dalam periwayatan hadis. Kalangan ini seperti Aisyah, Ali bin Abi Thalib, Anas bin Malik, Abu Hurairoh, dan Abdullah bin Umar. Tentu penguasaan hadisnya melampaui jutaan karena menjadi saksi langsung bersama Rasulullah.
Kedua, Al-Hakim. Gelar ini untuk menyebut tokoh yang menguasai hadis secara dirayah dan riwayah dalam kisaran diatas 1 juta. Sosok seperti Imam Malik yang lahir sekitar 90 H, memiliki guru sebanyak 900 orang dari kalangan tabi'in, dan mengawali penulisan hadis ratusan ribu dengan judul Al-Muwatha'. Imam Maliki dengan Imam Hanafi yang kemudian menjadi imam mazhab itu, sezaman dan belajar pada guru yang sama yaitu Imam Nafi' yang masih bertemu sahabat Anas bin Malik. Demikian juga muridnya Imam Malik, Imam Syafi'i yang lahir pada 150 H, memiliki penguasaan hafalan hadis yang sangat tinggi sehingga muncul sosok-sosok murid seperti Imam Ahmad bin Hambal yang lahir 164 H di Iraq dengan tingkat hafalan sekitar 1 juta hadis, atau Imam Bukhari yang lahir di Uzbekistan pada 194 H.
Ketiga, Hujjatul Islam. Gelar ini diberikan pada tokoh yang memiliki tingkat hafalan sekitar 300 ribu. Salah satunya adalah Imam Ghazali yang menulis kitab Ihya' Ulumuddin.
Keempat, Al-Khafidz. Gelar yang diberikan pada tokoh yang hafal 100 ribu hadis dengan matan dan periwayatannya. Pada posisi inilah Imam Ibnu Hajar Al-Asqalany, yang menulis syarah shohih bukhori dengan judul kitab Fathul Barri dan kitab hadis di bidang fiqih berjudul Bulughul Marom. Di Indonesia, tokoh yang dikenal dengan gelar Al-Khafidz yaitu Habib Alo bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang), Habib Salim bin Jindan (Otista) yang menjadi gurunya Kyai Abdullah Syafi'i, dan Habib Abdullah bin Abdulqadir Balfaqih (Malang).
Selain kategorisasi tersebut, dikenal juga para muhaddis sekaligus perawi dalam kelompok kutubussittah atau 6 kitab hadis utama, yang justru bukan dari bangsa Arab. 1) Imam Bukhari yang lahir di Uzbekistan pada 194 H. 2) Imam Muslim yang lahir di Iran pada 204 H. 3) Imam Dawud yang lahir di Afghanistan pada 202 H. 4) Imam Tirmidzi yang lahir di Tajikistan pada 209 H. 5) Imam Nasa'i yang lahir di Khurasan pada 215 H. 6) Imam Ibn Majah yang lahir di Iran pada 209 H.
Muallif Syeikh Nawawi Al-Bantany mengawali pembukaan kitab dengan puji syukur pada Allah dan shalawat pada Nabi Muhammad, seraya berdoa semoga diberikan kasih sayang dan ampunan pada seluruh umat Nabi Muhammad.
Langganan:
Postingan (Atom)


