Mari Makmurkan Masjid dengan Sholat Berjamaah di Masjid
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Agustus 2016

MTQ dan Ulama Bela Negara

Perhelatan akbar tentang kemampuan di bidang Qur'an sedang berlangsung di Lombok, NTB, pada 30 Juli sampai 6 Agustus. Daerah yang seringkali disebut dengan Kota Seribu Masjid, sepadan dengan Kairo yang identik dengan Kota Seribu Menara.
Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) merupakan even yang mula-mula diadakan oleh Nahdlatul Ulama (NU) melalui Jamiyatul Qurra' wal Huffadz (JQH) yang tersebar di berbagai daerah pada masa 1940. Oleh Menteri Agama saat itu, KH. Wahid Hasyim yang juga ayahnya Gusdur, JQH dipersatukan melalui kongres nasional pada 1953. Hal ini tentu dipengaruhi semakin kerasnya pertarungan ideologi kelompok nasionalis, agamais, dan komunis.
MTQ baru terlembagakan secara resmi di era Menteri Agama yang sekaligus pengurus PBNU, KH. Muhammad Dahlan pada 1967-an. Perhelatan MTQ dengan biaya pemerintah ini diprakarsai pula oleh Prof. KH. Ibrahim Hossen, yang pada 1970 mendirikan Perguruan Tinggi Ilmu Qur'an (PTIQ) dan Institut Ilmu Qur'an (IIQ) bersama para tokoh seperti Prof. Mukti Ali.
Sejarah mencatat bahwa organisasi di luar NU, pernah mengharamkan penyelenggaraan MTQ, berdalih sebagai praktik bid'ah yang tidak pernah dilakukan Nabi. Namun NU dan pemerintah tetap komitmen dan konsisten menyelenggarakan secara periodik. Hasilnya, kini hampir semua organisasi Islam berkeinginan kadernya dapat mengikuti MTQ Nasional, bahkan "latah" membuat ajang kompetisi hafidz Qur'an dengan beragam tingkatan.
Setidaknya ada tiga misi utama awal mula perhelatan MTQ.
Pertama, simbol syiar Islam. MTQ menjadi basis mengenalkan Qur'an kepada semua lapisan masyarakat sekaligus wujud kesatuan dan kebersamaan umat. Qur'an bukan sekadar kitab suci agama, tapi perekat dalam relasi sosial yang senyatanya.
Kedua, standardisasi pembelajaran Qur'an pada masyarakat muslim. Hal ini dapat dilihat dari ragam kategori yang diujikan. Misalnya kategori tilawah yang memiliki unsur Qiroah mujawwad (seni baca) dan murotal (tajwid) dengan tujuh nagham (langgam), tentu dapat menjadikan pembelajaran Qur'an bukan sekadar membaca tetapi ada nilai estetika dengan berkembangnya lagu bayyati, shoba, nahawand, hijaz, rost, sika, jiharka, dan kemudian dihadirkan adanya langgam Jawa. Termasuk kategori cerdas cermat, tafsir atau syarkhil Qur'an, kaligrafi, dan hiasan mushaf yang kesemuanya akan memiliki standar mutu yang sama.
Ketiga, upaya bela negara dengan aksi perlawanan ideologi radikal transnasional. MTQ pada masa awalnya, 1967, adalah kampanye santun "bersih-bersih" dari pengaruh komunisme menuju masyarakat religius. Dan dalam perkembangannya, MTQ dalah bagian dari forum penguasaan metodologi penafsiran yang dapat menggelorakan pemikiran-pemikiran praksis moderatisme (wasathiyah).
Banyak hal menarik pada perhelatan MTQ ke-26. Kegiatan berlangsung di kota islami Lombok, yang dipimpin oleh Gubernur "Tuan Guru Bajang" KH. TGH. Muhammad Zainul Majdi. Sosok muda 44 tahun, yang hafal Qur'an, menguasai penafsiran dengan raihan gelar doktor ilmu tafsir dari Universitas Al-Azhar, Kairo, dan sudah memimpin dua periode. Kesantunan dan keshalihannya telah menggabungkan dua peran sekaligus, peran ulama dan peran umara'.
Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan MTQ, Jamiyah Ahli Thariqoh Muktabarah An-Nahdhiyyah (JATMAN) sebagai wadah ulama sufi NU mengadakan konferensi internasional moderatisme Islam. Konferensi yang melibatkan sekitar 300-an ulama dari 30 negara ini menggagas wacana Islam moderat sebagai basis bela negara. Perlu adanya peningkatan peran ulama dalam mengembangkan nasionalisme, kebangsaan, dan perdamaian.
Sambung menyambung, MUI bekerjasama dengan Liga Muslim Dunia pun mengadakan konferensi moderatisme Islam dalam menangkal terorisme dan radikalisme. Muslim Nusantara ingin mengajari dunia bagaimana kita berbangsa dan bernegara yang damai, tanpa memperdebatkan antara Islam dan Demokrasi, antara Islam dan Pancasila. Lagi-lagi, itu dihelat sampai 1 Agustus, di Lombok, NTB, dengan gubernur muda yang hafal Qur'an dan menguasai pemaknaan tafsirannya.
Muh. Khamdan
Bogor, 29 Juli 2016.

Pemimpin Melayani

Untuk kesekian kali menyampaikn tema betapa pentingnya sosok pemimpin yang berjiwa melayani. Penting karena hakikat pemimpin adalah pelayan, sebagaimana ditunjukkan Yesus dalam jamuan terakhir dengan 12 muridnya yang rela membasuh kaki mereka.
Terasa berbeda materi ini disampaikan, jika peserta sebagian besar adalah para kepala kantor kementerian agama kabupaten/kota, pimpinan manajemen keagamaan level eselon 3 seluruh Indonesia. Belum lagi para eselon 3 dari berbagai perguruan tinggi islam negeri, yang kiranya sangat mafhum tentang dogma kepemimpinan.
Pemimpin adalah orang yang bisa mempengaruhi, bisa mengajak, dan mampu mendeskripsikan keadaan organisasi di masa depan terhadap orang lain. Khalifah Umar dalam nasehatnya kepada sahabat Mughirah menyampaikan agar pemimpin itu dekat dengan rakyat, dan mampu menjadikan orang yang tidak salah aman sedangkan menjadikan orang yang salah tidak aman.
Pemimpin yang dapat melayani itu, selain dekat dengan rakyat tentunya juga bukan yang arogan. Sahabat Mu'awiyah berujar "Aku tidak akan menggunakan pedangku, jika dengan cambukku sudah cukup. Aku tidak akan menggunakan cambukku, jika dengan lisanku sudah cukup". Inilah hakikat ketegasan pemimpin yang tidak arogan.
Bagaimana sesungguhnya karakter kepemimpinan dalam Islam? Tentu akan beragam pendapat karena banyaknya lokus keislaman sekaligus banyaknya varian pemahaman. Badiuzzaman Said Nursi dalam tafsirnya terhadap surat Al-Fath ayat 29 mendeskripsikan 4 (empat) kategori.
Pertama, Setia (Alladzina Ma'ahu). Dialah sosok Abu Bakar sahabat paling setia di sisi Rasulullah. Kesetiannya pada amanah-amanah yang dititipkan menjadikan gelar Ash-shiddiq disandangnya, seiring sikapnya yang selalu membenarkan Rasulullah.
Kedua, Tegas terhadap penyimpangan (asyiddau alalkuffar). Dialah sosok Umar Al-Faruq sahabat yang paling tegas. Sikap tegasnya bukan sekadar untuk rakyat biasa, tetapi juga bagi keluarga dan para sahabat Nabi yang lain. Di sinilah semua orang mendapat jaminan kepastian hukum.
Ketiga, Lemah lembut (ruhamau bainahum). Sosok ini sesuai pada sahabat Utsman bin Affan yang sangat dermawan dan lembut pada semua kalangan, serta pemaaf dan penuh sikap bijak.
Keempat, shalih individu dan shalih sosial (tarahum rukka'an sujjadan yabtaghuna fadhlan minallah). Kategori ini sesuai dengan sahabat Ali bin Abi Thalib yang tidak lagi mengenal dikotomi amal, tetapi mampu memadukan peran sebagai ulama dan umara sekaligus.
Keempat kriteria dengan sejumlah penjelasan biografi para sahabat tentu menjadi pedoman konseptualisasi kepemimpinan khulafaur rasyidin.
Bagaimana kearifan lokal kepemimpinan Nusantara? Setidaknya ada 3 (tiga) budaya luhur bangsa Indonesia yang menyiratkan makna pelayanan.
Pertama, dalam sejarah para raja Nusantara berkembang konsep politik "Manunggaling Kawula Gusti". Konsep ini menegaskan bahwa pemimpin harus dekat dan menyatu dengan rakyat. Pemimpin memiliki rasa empati yang tinggi dengan berbaur seperti adanya prosesi Grebeg Syawal, Sekaten, dan Dugderan. Para Raja juga berusaha mendekatkan diri pada Tuhan, sehingga Ken Arok mnyematkan diri sebagai titisan Dewa Syiwa. Airlangga berkedudukan di Kadiri menisbatkan diri sebagai titisan Wisnu. Raden Wijaya sebagai pendiri Majapahit mengkombinasikan antara Syiwa dan Wisnu sekaligus. Raja Islam pertama Jawa di Era Walisongo digelari Fatah, yang tak lain adalah Nama Allah. Sampai pada Raja Mataram yang disebut Sayyidin Panoto Gomo khalifatullahi Akbar, yang tak lain adalah nama Tuhan dan dikenal masyarakat dengan sebutan Sultan Agung.
Kedua, kearifan lokal atas lingkungan dengan konsep Hasta Brata (8 jalan kebenaran). Jalan trsebut menggunakan simbolisasi alam, seperti matahari yang menjadi komandan capaian kerja, bumi sebagai sumber curhat, bulan, bintang, api, air, samudra, dan angin.
Ketiga, Trilogi Kepemimpinan ala Ki Hajar Dewaatara. Ing Ngarso sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Pemimpin itu menjadi teladan, motor penggerak integritas, sekaligus menampung kritik dan aspirasi rakyat.
Tiga model karakter kepemimpinan yang melayani itu, tidak perlu merujuk pada teori leadership kebarat-baratan, karena leluhur Nusantara sudah mewariskan budaya yang maha agung.
Tak terasa sharing konsep dan aktualisasi para pemimpin di lingkungan Kemenag telah membuka tabir-tabir budaya nenek moyang. Konteks dogma religius terurai, konteks antropologis terjawab, dan konteks politik identitas tersusun sistematis guna menjadi bahan internalisasi.
Ach, semoga bukan sekadar ramai di kelas, tetapi dapat ramai juga terwujud pemimpin yang benar-benar melayani sepenuh hati.
Muh. Khamdan
Pusdiklat Kemenag Ciputat, 25 Juli 2016.

Ulang Tahun

Berbagi Bubur Merah Putih
Masih selalu muncul pertanyaan, bagaimana hukum memperingati ulang tahun. Bagaimana hubungannya dalam agama dan tradisi budaya, serta makna perenungan filosofisnya.
Dalam Surat Maryam ayat 33, menyebutkan "Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". Tentu ayat ini menjadi refleksi berfikir, siapa yang berdoa, mengapa doa itu diucapkan, dan apa maksud dari doa itu.
Isa Al-Masih memanjatkan doa tersebut setelah Ibu Maryam dikepung dengan berbagai tuduhan. Tentu doa ini menunjukkan bahwa setiap manusia akan melewati 3 fase, yaitu kelahiran, kematian, dan kebangkitan. Semuanya diharapkan selalu dalam keadaan sejahtera.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Bulughul Maram pada hadis 698 menjelaskan bahwa Abu Qatadah meriwayatkan. Rasulullah ditanya tentang puasa hari senin kamis, maka dijawablah oleh beliau karena senin adalah hari kelahiranku, hari aku diutus, dan hari diturunkan Al-Qur'an. Apa artinya? Rasulullah berpuasa di hari kelahirannya, Senin. Mengenang hari kelahiran maka teringat pula bagaimana orangtua di kampung-kampung selalu membuat hidangan bubur merah putih. Hidangan yang terbuat dari beras, santan, daun pandan wangi, dan gula merah.
Dikisahkan bahwa Nabi Ishaq menantikan anak kembarnya lahir. Di dalam kandungan istrinya itu berebutlah dua bayi untuk lahir duluan, Esau dan Yakqub. Esau berkarakter keras maka ngotot lahir duluan, sedangkan Yakqub yang lembut mengalah untuk lahir belakangan karena kasihan pada ibu yang sudah kepayahan. Berkembang di masyarakat bahwa anak kembar yang lahir belakangan adalah kakak, ittiba' atau mengikuti status kelahiran Nabi Yakqub.
Karakter tegas dan kuat menjadikan Esau sebagai pemburu, sedangkan Yakqub bagian memasak dan merawat pertanian. Suatu hari, Esau berburu dengan tanpa hasil dan sangat lapar. Dihampirilah Yakqub yang sedang memasak bubur kacang merah untuk berbagi makan dengan Esau. Maka diajukanlah syarat oleh Nabi Yakqub sebelum Esau diijinkan makan, yaitu dikembalikannya status kesulungan itu pada Yakqub. Esau menganggap sepele sehingga menyetujui.
Pada hari lainnya, Nabi Ishaq ingin memberikan berkat pada anak-anaknya. Berkah terbaik dan terbesar tentu diberikan pada anak sulung. Sesuai perjanjian yang sudah dilakukan antara Yakqub dan Esau, maka berkat Nabi Ishaq diberikan pada Yakqub alias Israel. Inilah kemudian menjadi nenek moyang sebuah bangsa Bani Israel. Apa hubungannya dengan bubur merah dalam hari kelahiran? Ulama NUsantara mengemas sebuah tradisi bubur merah sesuai yang disuguhkan Nabi Yakqub pada saudaranya, Esau. Bubur merah putih menjadi doa bil isyaroh bahwa anak-anak akan hidup rukun.
Terdapat makna filosofis dab perenungan budaya dari tradisi bubur merah putih.
Pertama, bubur adalah hidangan sederhana untuk berbagi. Sederhana bahannya sekaligus sederhana membuatnya. Hidup perlu mengedepankan laku kesederhanaan namun tetap ikhlas berbagi. Pada posisi ini tentu berkesesuaian bahwa berbagi atau shodaqoh maka dapat menghilangkan musibah. Hidup sederhana jauh dari musibah.
Kedua, bubur itu lembut yang sesuai semua tingkatan usia, baik bayi ataupun lanjut usia. Hidup mesti dengan laku yang lembut baik pada anak maupun orang tua, sebagaimana karakter Nabi Yakqub
Ketiga, bubur merah putih adalah pelambang darah merah milik ibu dan darah putih milik ayah. Inilah simbol pngenalan ovum sel telur yang lebih besar dengan warna merah, dan sperma yang lebih kecil dengan warna putih. Seseorang diharapkan selalu mengingat asal muasal "ilmu sangkan" dari hasil perjuangan serta pengorbanan ibu dan ayah, yang berawal dari air mani dan ovum sel telur.
Keempat, bubur merah putih adalah simbolisasi nasionalisme cinta tanah air. Merah putih adalah politik identitas yang tidak dapat terpisahkan dari Sriwijaya, Singosari, Majapahit, dan Mataram. Identitas merah putih mewujudkan kecintaan tanah dengan warna merah dan air dengan warna putih. Jauh sebelum NKRI menggunakan identitas merah putih, ulama Nusantara sudah menanamkan jati diri merah putih dan cinta tanah air (hubbul wathon minal iman) melalui simbolisasi bubur.
Memperhatikan hubungan antara doa Isa Al-Masih, puasanya Rasulullah di hari Senin, kisah kelahiran Yakqub dan Esau, serta tradisi bubur merah putih, setidaknya menyiratkan kearifan lokal ulama NUsantara atas agama dalam budaya.
Bagi yang ulang tahun didoakan senantiasa sejahtera dengan berbagi rasa syukur melalui shodaqoh hidangan. bagi yang ulang tahun senantiasa mengambil pelajaran atas peristiwa kelahirannya sebagaimana dilakukan Rasulullah dengan puasa di hari kelahirannya. Bagi yang ulang tahun senantiasa ingat asal usulnya, ingat ibu ayahnya, ingat laku-laku kehidupan, dan yang terpenting membangun rasa kecintaan pada tanah air, hubbul wathon minal iman.
Selamat ulang tahun bagi semuanya, baik yang berulang tahun kemarin, hari ini, dan hari esok. Semoga senantiasa dalam kesejahteraan, dapat berbagi dengan sesama, dapat berbakti pada orang tua, dapat mencintai tanah airnya dalam semangat nasionalisme.. Cukuplah bubur merah putih menjadi pembelajaran bagi kita dari para leluhur yang mewariskan budaya agungnya.
Salam,
Muh. Khamdan
Depok, 13 Juli 2016, pukul 11:45 WIB

Memakna Reunian

Lebaran dan reuni, seperti dua sisi mata uang. Lebaran menjadi momentum waktu untuk reunian, dan reunian serasa sangat tepat diadakan di hari-hari lebaran.
Bersatu kembali sosok-sosok yang pernah berkumpul di masa lalu, atau ikatan sejarah dengan masa yang telah terlampaui bersama.
Mungkin bagi sebagian orang, reunian dianggap sekadar forum ngobrol-ngobrol yang tiada guna. Justru di sini perlu memakna ulang bahwa reunian adalah desain silaturrahim berjamaah. Bayangkan jika harus satu persatu yang didatangi untuk silaturrahim, selain menguras tenaga dan biaya, belum lagi waktu yang sangat banyak untuk diluangkan. Tentunya ini tidak efektif bagi yang cuti lebarannya ditolak oleh birokrasi saat ini.
Obrolan yang berkisar tentang profesi saat ini, sering dilakukan dengan gurauan sambil mengenang kelakuan masa lalu. Zaman sekolah, zaman berorganisasi, dan zaman sepergaulan adalah identitas yang dapat menyatukan acara reunian tersebut.
Tak heran, jika pada akhirnya ketemu antara lurah dengan aparat desa yang lain maka pembahasan tanpa sengaja mengarah ke dana 1 milyar desa. Tak heran jika yang berprofesi arsitek, teknik sipil, suplier bahan bangunan, desain interior, sampai mandor tukang las pada akhirny dapat berkolaborasi dari obrolan reunian. Bahkan yang sesama pegawai pemerintah, pembahasan pun tanpa skenario justru fokus pada remun ke-13 dan larangan cuti. Inilah hakikat reunian sebagai bentuk silaturrahim yang dapat memperlancar rizqi sekaligus menguatkan potensi sumber ekonomi baru.
Sukses tidak harus dimaknai dengan melimpahnya kekayaan. Masing-masing orang memiliki potensi kesuksesan yang dapat dikembangkan maupun dapat mengembangkan potensi yang lain. Bagi yang sudah berhasil menjadi pengusaha tentu tidak bisa dianggap lebih sukses atau kurang sukses daripada yang menjadi abdi negara. Bagi yang memiliki anak 2 tentu tidak bisa dianggap lebih sukses atau kurang sukses daripada yang memiliki istri 2. Bagi yang belum menikah tentu tidak bisa dianggap lebih sukses atau kurang sukses daripada yang sudah bercerai. Kesuksesan seseorang adalah keberhasilannya untuk hadir kembali menyatukan memori dan kenangan masa lalu dalam reuni.
Reuni adalah desain untuk mengurangi rasa rendah diri, sekaligus pembelajaran untuk mengurangi rasa sombong. Reuni menjadi bermakna kalau masing-masing pelaku sadar darimana dulu asalnya, bagaimana kini jadinya, dan bagaimana mengelola kondisi saat ini ke depan. Reuni tiap tahun adalah momentum evaluasi bersama, masih adakah yang butuh bantuan? Masih bisakah membangun kekuatan jaringan? Masih mungkinkah menjadi diaspora perdamaian dan pemberdayaan di segala lini kehidupan.
Salam reuni kawan SD, SMP, SMA, Kuliah, Organisasi, Jam'iyah, Angkringan, atau kawan pencarian cinta di masa silam.
Mayong Jepara, 9 Juli 2016, pukul 17:30 WIB.
4 Syawal 1437 H

Mudik Untuk Pemberdayaan Desa

Mudik tahun 2016 ini, diperkirakan telah melibatkan sekitar 30 juta masyarakat migrasi ke desa. Hampir seluruh desa telah dikepung oleh kedatangan masyarakat yang selama ini berada di berbagai kota, terutama dari wilayah Jabodetabek.
Kepungan masyarakat kota telah membawa distribusi keuangan. Perputaran uang terjadi dari proses pembagian angpao lebaran, proses jajan makan selama liburan lebaran, dan tentunya pembelian oleh-oleh serta kenang-kenangan yang akan dibawa kembali ke kota.
Tak heran dalam rilis Metro TV dan hitungan BPS, arus uang berputar di desa dalam lebaran tahun ini mencapai kisaran 180 triliun rupiah. Angka yang fantastis untuk menggerakkan sektor ekonomi masyarakat desa dan daerah-daerah penyokong kota.
Mudik yang bagi sebagian orang masih digugat keabsahan dalilnya, telah menjadi momentum yang benar-benar dinantikan. Bagi masyarakat desa, mudik menjadi kesempatan menerima manfaat orang kota. Betapa besar uang shodaqah yang dihimpun dalam shalat ied, besar jamaahnya adalah kaum pemudik. Betapa besar uang jajan yang dibelanjakan dalam menraktir saudara atau sahabat untuk makan bakso, sate, ikan bakar, atau jajan lainnya. Betapa besar juga uang yang mengalir dari permintaan proposal pembangunan, proposal kegiatan, dan permintaan-permintaan lainnya yang menggantungkan kaum mudik.
Di sinilah posisi penting bahwa mudik adalah ritual pemerataan ekonomi yang sengaja atau tidak sengaja, telah didesain ulama Nusantara. Bukan berarti orang di desa menggantungkan pada kedatangan orang kota sebagai pemudik, tapi penting bagi kaum mudik untuk ikut menggerakkan sektor ekonomi kendati sekadar menraktir makan bakso atau ikan bakar di tepi pantai yang berdebur ombak dengan semilir sepoi-sepoi.
Pantai Bandengan, Pantai Mpu Rancak, Pantai Kartini.
Jepara, 7 Juli 2016, pukul 18:30 WIB

TAKBIR KELILING

Dalam perjalanan mudik sampai di Pekalongan dari tujuan utama ke Jepara, mendapatkan informasi persiapan takbir keliling para remaja masjid perumahan tempat tinggal. Kendati tidak ikut langsung takbir keliling karena harus "jihad" mudik silaturrahim ke kampung, rasa bangga dan bahagia sudah terasa.
Dulu di masa-masa di kampung, malam hari raya adalah waktu yang ramai untuk keliling kampung, berjalan beramai-ramai, bawa obor, takbir keliling alias takbir berjamaah.
Pak Kiyai dan Bapak, yang biasa ngurus zakat di masjid selalu berpesan, ramaikan hari raya, dan hidupkan malam hari raya. Tentu maksudnya adalah dengan takbir, dzikir, dan sholat sunah di malam hari. Inilah malam terkabulnya doa. Amanat bapak dan ibu memotivasi anak-anaknya untuk tidak lupa sholat tasbih, dan berdoa. Kunna nukmaru an nahruja yaumal ied hatta nukhrijal bikra min khidriha, hatta nukhrijal huyadh. Fayukabbirna bitakbirihim wa yad'una bi du'aihim. Inilah hadis riwayat Imam Bukhori yang tercantum dalam urutan 971. Diperintahkan para sahabat pada malam hari ied keluar rumah, hingga keluarlah para gadis dan wanita yang sudah haid untuk bertakbir beriringan, dan berdoa dalam doa yang sama.
Kearifan ulama Nusantara menjadikan tradisi malam hari raya dirayakan dengan takbir keliling. Obor-obor dibawa untuk menghidupkan malam. Alat-alat musik ditabuh untuk mengiringi lantunan takbir meramaikan malam.
Maka tak pantas sesungguhnya jika pemimpin daerah melarang takbir keliling dengan dalih ketertiban dan keamanan. Orang yang menyemarakkan takbir jamaah jelas berbeda dengan orang yang memandang takbir jamaah sebagai bid'ah. Sesungguhnya takbir keliling di malam ied memiliki sandaran dalil dan sanad yang sahih, dan memiliki hubungan akar tradisi yang kuat di Nusantara. Allahu Akbar, Wa Lillahilhamd.
Alun-Alun Batang, 5 Juli 2016, pukul 14:05 WIB

Renungan Bom Madinah

Tragedi Generasi Ibnu Muljam
Di kala mnjelang sahur di prbatasan Tegal-Pemalang dalam prjalanan mudik menuju Jepara, terkagetkan info bahwa terjadi bom di lingkungan Masjid Nabawi, Madinah. Tempat di mana Rasulullah, manusia terbaik dan termulia dimakamkan.
Selintas terbayang, kisah pembunuhan yg terjadi pada sahabat Ali bin Abi Thalib, juga terjadi pada Ramadhan tahun ke-40 hijriyah. Trio Attamimy, adalah pelaku utamanya.
Abdurrahman bin Muljam Almuradi Attamimi, Burak bin Abdullah Attamimi, dan Amr bin Bukair Attamimi. Ketigany merencanakn pmbunuhan trhadap tiga sahabat mulia, Ali, Muawiyah, Amr bin Ash. Skenario dlancarkan pasca damai perang shiffin, dimana trio Attamimi mnganggap ketiga sahabat dan pengikutny telah kafir karena menggunakan hukum damai tidak sesuai dengan hukum Allah. "Barangsiapa berhukum selain hukum Allah maka mereka adalah kafir (surat Al-Maidah)".
Inilah ayat favorit kaum takfiri, baik zaman awal Islam di masa Nabi sampai sekarang. Tercatat di masa Nabi ketika sedang membagikan harta rampasan perang, datang seorang laki-laki dengan kedua dahi menonjol, berjenggot lebat, berkepala gundul botak, sarung tergulung cingkrang, menyeru pada Nabi karena dianggap pembagian rampasan dari Yaman itu tidak adil.
"Berlaku adillah dan takutlah pada Allah wahai Rasulullah"
Maka Rasulullah menjawab: "Celakalah, bukankah aku orang yang paling adil dan paling takut pada Allah".
Geregetanlah sahabat Khalid bin Walid, sehingga minta ijin untuk memenggal kepala orang itu yang bernama Dzul-Khuwaishirah Attamimi. Tapi Nabi melarang, yang disertai sabda Nabi bahwa akan ada keturunan dari kelompok ini yang pandai membaca Al-Qur'an tapi tidak sampai ke tenggorokannya (tidak memahaminya), yang keluar dari Islam seperti anak panah yang melesat dari busurnya.
Teringat pada dialog Ibnu Abbas dengan kelompok Khawarij pada masa sekitar Perang Nahrawan antara pasukan Ali dengan pasukan khawarij. "Mengapa kalian tidak patuh pada Ali?"
Jawab kaum khawarij: "ada 3 alasan. Pertama, Ali, Muawiyah, Amr bin Ash telah kafir karena berhukum damai dengan hukum selain Qur'an. Kedua, Ali tidak menjadikan musuhnya dalam Perang Shiffin sebagai tawanan dan hartanya sebagai rampasan. Ketiga, Ali tidak menggunakan istilah Amirul Mukminin sehingga itu berarti Amirul Kafirin".
Dijawablah oleh Ibnu Abbas.
Pertama, dalam Al-Qur'an bukankah dijelaskan bahwa ketika suami istri bertikai maka untuk damai dapat dikomunikasikan antar keluarga, tentunya itu tergantung para pihak bukan di dalam Qur'an. Demikian damai dalam jual beli, damai dalam pembunuhan, dan lainnya.
Kedua, Semua istri nabi adalah ibu dari seluruh muslim, dan tidak halal bagi siapapun. Dan Aisyah adalah lawan Ali dalam perang Shiffin, maka tidak mungkin dihalalkan sebagai tawanan karena kehormatan istri Nabi adalah mutlak dijaga.
Ketiga, dalam perjanjian hudaibiyah, tidak segan-segan Rasulullah menulis bahwa perjanjian itu antara Muhammad bin Abdullah dengan Abu Sufyan. Maka tidak masalah ketika orang kafir Quraisy meminta menghapus Muhammad Rasulullah menjadi Muhammad bin Abdullah.
Kini, peristiwa sekitar 1.400 tahun yang lalu terulang. Pengkafiran dengan pemboman berlangsung dalam sepekan. Bandara Turki dibom pada akhir Juni, dengan korban tewas sekitar 45 orang dan cedera lebih dari 240-an orang. Menyusul kemudian di Dhaka Bangladesh, korban ratusan tewas dalam perayaan Ramadhan. Dan kini, Arab Saudi diguncang di Madinah, Jeddah, dan Qatif. Pelakunya sama ciri fisik, dan tentunya sama ideologis sesuai gambaran kisah yang dialami oleh Rasulullah dan Sahabat Ali karomallahu wajha..
Dalam kondisi tersebut, bahaya terbesar bagi warga Indonesia adalah teror kemacetan mudik yang tidak terurai. Bukan soal macetnya yang berbahaya, tapi kalau ada yang berfatwa mudik adalah bid'ah yang tidak diajarkan Nabi. Lebih baik iktikaf dan berbuka dengan korma, daripada mudik mengejar opor ayam. Mudik adalah jihad akbar. Menahan hawa nafsu, yang Allah sendiri membolehkan untuk tidak puasa.
Jalan Mudik Pemalang, 5 Juli 2016, pukul 08:18 WIB

Halal Bi Halal

Maaf Lahir Batin
Jika ditanyakn pada orang Arab, tentu mereka bingung sendiri dengan istilah ini, Halal Bi Halal. Bingung karena struktur bahasa yang digunakan memang tidak benar alias Slang.
Pada 1948, di kala NKRI sdg drongrong pemberontakan atas nama khilafah DI/TII dan PKI Madiun, Pak Karno memanggil KH. Wahab Chasbullah ke istana untuk memberi saran atas pertengkaran ideologis dan situasi politik yg tidak sehat. Kyai Wahab memberikn saran utk mngadakn silaturrahim, trlebih bertepatan dg Hari Raya Idul Fitri. Politik yg mmanas dan tidak sehat it krn saling menyalahkn, dan itu dosa. Dosa it haram. Supaya tidak punya dosa, maka harus dihalalkan. Dalam acara tersebut semua bertemu dan saling memaafkan, saling menghalalkan, saling mengikhlaskan. Oleh karenanya, acara silaturrahim nasional itu diganti dengan istilah "halal bi halal" dg saling bersalaman. Tidaklah dua muslim yg brtemu lalu berjabat tangan mlainkan pasti diampuni keduany sblm berpisah.
Lebaran Ketupat
Halal bi Halal yg kmudian dilakukan oleh masyarakat, seringkali diiringi adanya ketupat (kupat) sebagai akronim ngaKU lePAT (mengakui kesalahan) melalui Kelakuan Empat.
Pertama, Lebaran. Situasi di mana Ramadhan sdh lebar (selesai), dan disambut dg hari idul fitri yg hrus drayakn sampai Allah sndri mengharamkan utk puasa pd hari trsebut.
Kedua, Luberan. Bulan pasca Ramadhan adalah hari-hari meluberkan (melimpahkan) rizqi untuk brsedekah dan brbagi dg ssama, kerabat, fakir miskin, dll.
Ketiga, Leburan. Masa berakhirnya Ramadhan adalah masa kemenangan krn Allah sdh melebur (menghapus) dosa-dosa hambaNya. Oleh karenanya, bulan Syawal gantian saling menghapus dosa sesama manusia.
Keempat, Laburan. Situasi bersihnya diri setelah terampuni dosa kmudian dilanjutkan dengan melabur (mewarnai putih), yaitu laku menghias diri dengan sikap-sikap yang positif.
Posisi keempat laku demikian berimplikasi pd kebaikan dan kesucian lahir dan kesucian batin, fitri. Hal itu tersimbolkan dengan membelah ketupat yang isinya putih bersih bagai hati para muslim yang memenangkan Ramadhan. Pada hari ketujuh Syawal itulah di beberapa daerah merayakan Lebaran Ketupat untuk menandai kesucian lahir batin dg saling berkumpul, makan bareng, dan saling memaafkan. Inilah kearifan lokal ulama Nusantara, tidak berdebat mncari dalil tetapi mengemas substansi agama agar lebih nyata dan diamalkan secara mudah.
Pada kesempatan itu, tentu akan banyak yg mngajukan maaf lahir dan batin. Terlebih tidak dpt berkumpul bersama dlm halal bi halal, reunian, maupun momentum lebaran lain karena adanya larangan cuti lebaran. Oleh karena itulah, penulis mngajukan permohonan maaf dg sepenuh hati secara lahir dan batin dlm kesucian di idul fitri.. Salam hormat n maaf.

Jihad Dalam Dimensi Mudik

Mudik merupakan perjalanan antropologis seseorang yang dilakukan seiring dengan tibanya hari idul fitri. Tidak ada jawaban persis kapan mudik mulai terjadi, namun yang pasti hanya berlangsung di bumi Nusantara. Bukan di Arab Saudi, Turki, Malaysia, Pakistan, apalagi jazirah Eropa. Seolah sudah menjadi kewajiban bahwa mudik harus dilakukan kendati menguras seluruh tabungan selama setahun.
Mudik, kembali ke udik atau kembali ke kampung halaman. Inilah hakikat antropologis yang telah berkolaborasi dengan ritual agama berupa puasa Ramadhan dan lebaran idul fitri. Kesukarelaan yang tidak perlu dikomando telah menjadikan jutaan manusia urban berjuang untuk melakukan. Dengan suka cita telah menjadikan kampung sebagai tujuan kembali, dan dengan penuh harap telah menjadikan para pegawai antri mengajukan cuti tahunannya.
Dalam suasana demikian, patut untuk direnungi siapa yang memiliki grand design budaya mudik tersebut untuk pertama kali, bagaimana memahami nalar psikologis masyarakat yang rela mengorbankan jiwa dan raga sekaligus harta hanya untuk ritual antropologis semacam ini. Dan tentunya hanya dapat dirasakan oleh para pemudik itu sendiri.
Mudik jelas membutuhkan keseriusan dan persiapan. Dalam konteks Islam, kedua langkah itu merupakan dimensi jihad. Kesungguhan untuk mewujudkan nilai-nilai spiritual yang sudah berkolaborasi dengan budaya dan sisi antropologi.
Pertama, Jihad sosial. Seseorang harus kembali mengenal dan mmberdayakan msyarakat asalnya. Terlebih kini setiap desa sudah diberikan dana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Sudah semestinya transfer pengelolaan dan ilmu dilakukan oleh kaum mudik. Inilah substansi silaturrahim yang dapat melancarkan rizqi melalui sumber-sumber produksi ekonomi yang digerakkan kaum mudik.
Kedua, Jihad individu. Seseorang harus kembali mendarma bhaktikn pengabdiannya pada orangtua, sanak family, dan handai taulan (birrul walidain). Tentu mudik bukan sekadar ke kampung atau liburan, tapi esensinya adalah mengenal kembali leluhur dan riwayat pengabdian komunitas yang telah membesarkan kaum mudik.
Ketiga, Jihad budaya. Puncak lebaran yang dilakukan masyarakat Indonesia umumnya terjadi dalam hitungan hari ketujuh, karena menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari puncak kepuasan berpuasa syawal. Pada sisi inilah sektor pariwisata dengan beragam kirab budaya berlangsung di berbagai daerah.
Keempat, Jihad spiritual. Seorang Muslim sangat disunahkn untuk puasa 6 hari setelah idul fitri yg setara dg puasa setahun. Dalam konteks demikian, perenungan kembali pada kesucian sesungguhnya sedang terbangun melalui rangkaian halal bi halal. Suatu seremoni yang diperkenalkan oleh KH. Wahab Chasbullah, dan tidak akan ditemukan di negara manapun, apalagi penggunaan tajuk bahasa yang sangat sulit difahami orang Arab sekalipun.
Kelima, jihad ekologis. Para pelaku mudik sesungguhnya ingin membuka memorinya kembali terhadap lingkungan para leluhur dan kondisi yang telah membesarkan. Jika sosok yang melahirkannya disebut ibu kandung, maka alam inilah ibu pertiwi. Ibu yang memberi kehidupan kedua, sehingga para ulama Nusantara mengembangkannya dalam konsep sakti Cinta Tanah Air sebagai bagian dari iman. Perjuangan mempertahankannya telah memakan korban nyawa yang sangat banyak, dan kini mulai digempur dengan dalih pembangunan dan industrialisasi.
Dalam dimensi jihad demikian, tidak heran jika nantinya tetap akan ada pegawai yang tidak mempedulikan edaran larangan cuti. Sesungguhnya ridho Tuhan tergantung ridho orang tua. Dan untuk menggapai keridhoan itulah banyak yang harus berjuang kembali ke kampung. Selamat mudik dalam situasi ketertekanan tanpa cuti. Di sinilah hakikat kesungguhan jihad itu sendiri.

Rabu, 02 Maret 2016

Boleh Membunuh Anjing

Untuk Anjing yang Berbahaya
Sebagian umat Islam mungkin beranggapan bahwa anjing adalah hewan yang paling menjijikan setelah babi. Saking jijiknya, tak jarang ditemukan di beberapa perkampungan, anjing dijadikan objek kekesalan dan kemarahan. Setiap ada anjing yang lewat, entah apa salahnya, tubuhnya selalu dihujani dengan batu-batu. Anjing malang itu pun lari sambil terkaing-kaing.
Sikap antianjing ini sekilas memang memiliki dukungan dari hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر بقتل الكلاب إلا كلب صيد أو كلب غنم أو كلب ماشية
Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh anjing kecuali anjing pemburu, anjing penjaga gembala dan penjaga ternak.
Berdasarkan hadits ini dipahami bahwa diperbolehkan membunuh anjing yang tidak ada manfaatnya untuk kehidupan manusia. Bila dia bisa digunakan sebagai penjaga gembala, rumah, dan ternak, kita tidak diperbolehkan membunuhnya.
Akan tetapi, sebenarnya para ulama berbeda pendapat mengenai makna dan maksud hadits di atas. Ada yang memahami larangan Nabi dalam hadits tersebut dikhususkan untuk anjing yang membahayakan saja, karena konteks kemunculan hadis ini di saat banyaknya anjing yang mengganggu dan membahayakan manusia.
Ada pula yang berpendapat bahwa hadits membunuh anjing sudah di-nasakh (dihapus) oleh hadits lain yang menunjukkan larangan membunuhnya. Maka dari itu, Imam al-Harmain (Abu Ma’ali al-Juwaini) menuturkan dalam karyanya Nihayatul Mathlab fi Dirayatil Madzhab, والكلب الذي لا منفعة له، ولا ضرار منه لا يجوز قتله. وقد ذكرنا طرفاً من ذلك مقنعاً في باب الصيود من المناسِك عند ذكرنا الفواسق، وقد صح أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بقتل الكلاب مرة، ثم صح أنه نهى عن قتلها، واستقر عليه على التفصيل الذي ذكرناه. وأمر بقتل الكلب الأسود البهيم. وهذا كان في الابتداء، وهو الآن منسوخ.
Anjing yang tidak bisa dimanfaatkan dan tidak pula membahayakan, tidak boleh dibunuh. Kami telah menjelaskan permasalahan ini dalam pembahasan “Perburuan Pada Waktu Manasik” ketika menyinggung hewan-hewan fasik (berbahaya). Memang ada riwayat sahih yang menyatakan Nabi SAW memerintah membunuh anjing dan kemudian pada satu riwayat dikatakan Nabi SAW melarangnya. Penjelasan rinci masalah ini sudah kami jelaskan. Sesungguhnya perintah Nabi untuk membunuh anjing hitam itu sudah di-nasakh (dihapus).
Pada hakikatnya, manusia tidak hanya dituntut menghormati sesama manusia. Binatang dan tumbuhan pun perlu dijaga, dirawat, dan dilindungi kehidupannya. Demikian pula dengan anjing walaupun ia termasuk hewan yang diharamkan secara syariat. Tetapi bukan berarti ia boleh disakiti ataupun dibunuh dengan seenaknya.
Ia boleh dibunuh bila membahayakan dan merusak kenyaman manusia, misalnya anjing gila. Sedangkan anjing yang tidak berbahaya sekalipun tidak ada gunanya, tidak dibolehkan bagi kita untuk menyakiti dan membunuhnya.

Kamis, 18 Februari 2016

Mengaji Dakwah Walisongo

Menulislah Gagasan Agar Menjadi Bukti Kesejarahan Kita
Walisongo menulis semua ajaran tentang Islam dengan menggunakan tulisan dan bahasa lokal, bukan Arab maupun Pegon. Suluk-suluk yang dibuat oleh para Wali, semuanya menggunakan tulisan lokal. Suluk "Wrucil" nya Sunan Bonang, suluk "Linglung" nya Sunan Kalijaga, kidung "Purwojati" dan sebagainya, semua menggunakan bahasa dan bentuk huruf lokal Jawa.
Belakangan terjadi sesat pikir yg menganggap bahwa semua tulisan yg menggunakan huruf berkarakter lokal seperti Hanacaraka adalah warisan Hindu Majapahit. Akhirnya ajaran-ajaran yang menggunakan huruf-huruf tersebut dan bukan huruf Arab menjadi tertolak. Akibatnya ilmu-ilmu yang diwariskan Walisongo menjadi tidak berkembang. Saat Belanda datang ke Nusantara adalah dalam situasi mandegnya ajaran Walisongo tersebut bersamaan dengan makin kentalnya kecenderungan dan pendekatan fiqih, maka penjajahan akhirnya dengan mudah terjadi, karena para ulama lebih menonjolkan dalil-dalil dan tidak berpijak ke tradisi yg sudah ada. Pada periode ini pesantren-pesantren sudah mulai tidak bisa membaca tulisan Hanacaraka lagi. Inilah gelombang ke-2 Islam di Nusantara, setelah Gelombang pertama yang dibawa oleh Walisongo.
Walhasil, para misionaris dan orientalis yang datang di Nusantara justru yang akhirnya memunguti mutiara karya-karya tulisan Walisongo tersebut dan mempelajarinya, sementara muslim Indonesia meninggalkannya. Misalnya, naskah kidung Purwojati yang terdiri 46 pupuh, dan berisi pengetahuan-pengetahuan serta informasi yang sangat langka, ternyata didapatkan dari almarhum Romo Kuntoro, yang beragama Katolik. Saat ini naskah-naskah Walisongo banyak disimpan di Vatikan dan Leiden Belanda dan umat Islam sendiri menganggap semua naskah Jawa tersebut adalah tulisan kafir dan tidak perlu dipelajari. Padahal banyak sekali naskah-naskah tersebut yang mencakup berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Periodesasi Dakwah
Jika diklasifikasikan berdasarkan waktu dan karakteristiknya, gelombang Islam di Nusantara dapat kita bagi menjadi tiga. Gelombang pertama, adalah era Walisongo. Gelombang Kedua, adalah era pasca Walisongo yang ditandai dengan mulai hilangnya ilmu-ilmu warisannya karena huruf Jawa ditolak sebagai sumber pengetahuan Islam. Dan gelombang Ketiga, adalah keadaan seperti saat ini, dimana berbagai pengerasan dan reduksi-pendangkalan terjadi serta dengan sederhana mengidentikkan Islam dengan simbol-simbol budaya Arab. Islam cenderung dilihat dari citra kulit, bukan substansi.
Jika tidak berhati-hati maka berbagai warisan adiluhung Walisongo akan dapat makin lenyap digerus oleh arus globalisasi dan kecenderungan-kecenderungan mutakhir yang bergerak sangat cepat dan massif.
Belajar dari sejarah bahwa sebuah negara dan kebudayaan bisa saja hilang atau punah. Contohnya negeri Campa. Kebudayaan Campa saat ini hanya tinggal suku kecil di Vietnam dan Kamboja. Padahal negeri Campa pernah besar dengan kebudayaannya.
Demikian juga bangsa Kurdi di Kurdistan. Salah seorang pemimpinnya yang sangat terkenal dan dicatat dunia serta dibanggakan oleh umat Islam adalah Shalahuddin Al-Ayyubi. Tapi suku Kurdi sendiri kini lenyap dan hanya menyisakan suku Kurdi yang kecil di Irak, Suriah dan Turki. Identitasnya telah hilang.
Yang paling tragis adalah suku Kazar, yang berada di Kaukasus, Gorgia. Bangsa ini dulu mempunyai kerajaan yg besar tapi akhirnya hilang sama sekali. Dan yang mengerikan adalah bahasa Kazar itu sendiri juga hilang. Keturunan bangsa Kazar sudah tidak tahu bagaimana bahasa Kazar. Hal ini dikarenakan terjadinya "petaka budaya", dimana orang Kazar yang memeluk Islam lebih memilih untuk berbicara hanya dalam bahasa Arab, sementara yang Kristen menggunakan bahasa Yunani, sedang yang memeluk agama Yahudi menggunakan bahasa Ibrani, tak ada yg menggunakan bahasa Kazar. Maka perlahan habislah bahasa Kazar bahkan hingga tak dikenali lagi oleh keturunannya, dan akhirnya melenyap dari peradaban dunia.
Hal serupa yang terjadi pada bangsa-bangsa tersebut tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada beragam suku dan kebudayaan di Nusantara jika kita sendiri tidak menjaganya. Identitas budaya kita dapat hilang kapan saja dan terancam menjadi entitas anonim yang rentan digilas arus global.
Sementara Walisongo telah berjasa memberikan identitas bagi Islam di Nusantara dan memberi inspirasi untuk itu. Belanda menjajah selama 350 tahun. Saat proklamasi 17 agustus 45 umat Islam di Indonesia berjumlah 95% dari seluruh penduduk Indonesia. Sementara di utara ada Filipina. Dulu di negeri itu berdiri kerajaan-kerajaan Islam seperti Mindanao, Isulu dan Zamboanga. Kotanya yang terbesar bernama Amanillah (sekarang dikenal sebagai Manila). Setelah dijajah Spanyol selama 150 tahun umat Islamnya hanya tinggal 5% saja.
Karakter keberagamaan umat Islam di Indonesia lebih kuat dan berdaya tahan, dimana hal itu tak lepas dari kuatnya mental warisan Walisongo yang bukan melulu mengajarkan syariah, melainkan berbagai aspek ilmu pengetahuan dan integrasi budaya lokal yang kuat. Karenanya penting untuk menggali kembali sejarah kebudayaan dan warisan pemikiran Walisongo tersebut sebagai usaha menemukan spirit dan energi besar yang mereka wariskan untuk memperkuat kita, baik sebagai entitas umat beragama maupun bangsa, baik di masa kini maupun di masa yang akan datang. Itulah kekuatan Islam Nusantara.

Jumat, 12 Februari 2016

Nabi Digertak Orang Berjenggot dan Jidat Hitam

Fenomena munculnya pria berjenggot lebat, celana cingkrang, dan tanda hitam bekas di dahi dengan kebiasaan menggertak kepada sesama ternyata sudah ada sejak zaman Nabi. Bahkan yang menjadi sasaran gertakan pria itu adalah Nabi Muhammad SAW itu sendiri.
Alkisah, seorang pria berjenggot lebat tiba-tiba menggertak Rasulullah SAW saat beliau membagi-bagikan emas kepada sejumlah kalangan. pria itu bersikap tidak terpuji kepada Rasulullah karena merasa tidak kebagian jatah dan mengganggap Rasulullah SAW tidak berbuat adil.
Pria berjenggot lebat ini bernama Hurqush bin Zuhair al-Tamimi yang lebih dikenal dengan sebutan Dzul Khuwaishirah al-Tamimi. Ia meminta agar Rasulullah SAW bersikap adil kepada seluruh sahabatnya dengan memberikan bagian secara merata, tidak pilih kasih.
Wahai Muhammad, berbuatlah adil !,” gertak Dzul Khuwaishirah.
Celakalah kamu, siapalah lagi yang akan berbuat adil jika aku saja dipandang tidak adil?” timpal Rasulullah SAW. Gertakan Dzul Khuwaishirah kepada Rasulullah SAW ini dipandang sangat tidak sopan dan lancang sekali sehingga membuat para sahabat lainnya marah, tak terkecuali sahabat Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid.
Karena tidak terima Rasulullah diperlakukan seperti itu, kedua sahabat yang dikenal gagah pemberani itu ingin membunuhnya. “Wahai Rasulullah, biarkan kupenggal saja lehernya.” Rasulullah menjawab; “Biarkan saja!
Dzul Khuwaishirah meninggalkan Rasulullah, dan Rasulullah bersabda; “Akan lahir dari keturunan orang ini kaum yang membaca Al-Qur’an, tetapi tidak sampai melewati batas tenggorokannya (tidak memahami substansi misi-misi Al-Qur’an, dan hanya hafal di bibir saja). Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya. Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Kalau aku menemui mereka, niscaya akan kupenggal lehernya seperti kaum ‘Ad.” (HR. Muslim pada Kitab Az-Zakah, bab al-Qismah).
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW bersabda; “Mereka sejelek-jeleknya makhluk, bahkan lebih jelek dari binatang. Mereka tidak termasuk dalam golonganku, dan aku tidak termasuk dalam golongan mereka.”(HR. Shahih Muslim).
Menurut Imam Nawawi, Dzul Khuwaisir berjidat hitam, kepalanya botak, bersorban, tinggi gamisnya setengah kaki, dan bejenggot panjang. Jidat yang hitam berasal dari bertemunya jidat dengan lantai kala sholat. Menurut para ulama, kedua hadits ini menjelaskan bahwa Dzul Khuwaishir akan memiliki keturunan yang meski pun rajin sholat, baik wajib maupun sunah, dan membaca Al Qur’an, namun cara berfikir dan perilakunya sama sekali tidak Islami. Mereka dengan mudah mengkafirkan orang lain yang tidak sefaham dengan mereka. Tragedi Khawarij
Prediksi yang disabdakan Rasulullah tersebut terbukti, pada tahun ke 40 H dengan dibunuhnya Ali bin Abi Thalib. Yang membunuhnya adalah Abdur-Rahmân bin Muljam al-Tamimi. Bukan orang Yahudi atau Kristen. Orang ini setiap hari puasa, setiap malam shalat malam, hafal Qur’an, namun, pemahamannya tentang agama kurang menguasai secara utuh.
Mereka mengkafirkan Sayyidina Ali, golongan anak yang pertama masuk Islam, menantu Rasulullah, termasuk 10 orang yang dijamin masuk surga (al-‘asyratul mubassyiriina biljannah), yang memenangkan perang Khaibar, karena menerima hukum hasil musyawarah pada peristiwa tahkim (berdamai) dengan Gubernur Syam Muawiyah. Karena tidak berhukum dengan Al-Qur’an, maka kafir dan halal dibunuh. Ini persis seperti yang diprediksikan oleh Nabi SAW.
Orang-orang yang ekstrem atau radikal di awal-awal Islam ini masuk golongan khawarij. Khawarij dianggap sebagai sekte radikal karena sekte ini mengkafirkan semua orang yang berdamai atas kasus pembunuhan Utsman bin Affan, seperti Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, dan lain sebagainya. Selain itu, selama sekte ini tumbuh dan berkembang pada zaman pemerintahan Bani Umayyah, sekte ini menjadi oposisi pemerintah dengan militansi luar biasa dan nekat, sehingga meski hanya berkekuatan 80 orang, mereka berani melawan penguasa. Jika di antara mereka ada yang tewas, mereka menganggapnya syahid. Sekte ini kemudian terpecah menjadi beberapa sekte, di antaranya Al-Azariqah, al-Ibadiyah, an-Najdat, dan Ash-Shufriyah. Yang paling ekstrim adalah sekte Al-Azariqah karena kelompok ini menganggap orang di luar Khawarij adalah kafir.
Nah, sekarang yang model begini mulai banyak. Orang-orang, organisasi atau pesantren yang mengajarkan radikalisme atau ekstrem. Menganggap orang yang tidak sepaham sebagai ahli bid’ah, sesat, kafir dan ahli neraka. Mereka tidak mengenal toleransi.
Orang-orang yang berpikir ektrem atau radikal bermunculan. Berbagai tragedi kekerasan, bom bunuh diri terjadi di mana-mana termasuk di Indonesia. Sudah banyak yang ditangkap dan diesksekusi, namun tetap saja ada generasi penerusnya. Kini ada organisasi ISIS yang ingin mendirikan negara Islam. ISIS didirikan oleh Abu Bakar Al-Baghdadi. ISIS merupakan sempalan dari Al-Qaedah, pimpinan Usamah bin Laden. Mereka ingin mendirikan khilafah, negara Islam. Siapa saja yang tidak setuju dibunuh. Tentu saja ini bertentangan dengan ajaran Islam.

Selasa, 02 Februari 2016

Pahala Sedekah Pohon

Ketika kebutuhan hidup manusia terpenuhi oleh alam, manusia tidak perlu susah-susah membuat dan mengolah makanan. Manusia cukup mengambil dari alam karena alam banyak menyediakan kebutuhan manusia, terutama makanan. Makanan itu antara lain buah-buahan dan binatang buruan.
Kehidupan awal manusia sangat tergantung dari alam. Ketika alam sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup manusia, yang disebabkan populasi manusia bertambah dan sumber daya alam berkurang, maka manusia mulai memikirkan bagaimana dapat menghasilkan makanan.
Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ غَرَسَ غَرْساً، لَمْ يَأْكُلْ مِنْهُ آدَمِيٌّ، وَلاَ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ، إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ
Artinya: “Siapa yang menanam tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan anak Adam (manusia) atau makhluk Allah lainnya, niscaya baginya (pahala) sedekah “ (HR. Muslim)
Sabda tersebut menggerakkan para sahabat Nabi untuk melakukan penghijauan. Diceritakan, Abu Darda radliyallahu ‘anhu pernah menanam pohon zaitun ketika usianya sudah senja. Padahal, untuk menghasilkan buah pohon tersebut membutuhkan waktu cukup lama.
Abu Darda pun ditegur seseorang perihal kegiatannya ini. “Kenapa Engkau menanam pohon zaitun, padahal pohon tersebut lama berbuah sementara usiamu sudah tua, wahai Abu Darda?”
“Tidak menjadi persoalan pohon yang saya tanam berbuah ketika saya sudah meninggal, tapi nanti yang menikmati anak cucu saya,” jelas Abu Darda.
Abu Darda pun melanjutkan penjelasannya, “Anak cucu saya akan mendoakan, dan doanya sampai ke kuburan saya.” (Ahmad Rosyidi)

Membangunkan Anak Sholat Subuh

Bayangkan di Kala Kebakaran
Abuya As-Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki رحمه الله bercerita: .
Dahulu ada seorang wanita bertanya kepada mufti :
"Bagaimana caranya membangunkan anak-anak saya yang sedang tertidur nyenyak untuk sholat Subuh ?"
Mufti menjawab dengan balik bertanya kepada wanita tersebut :
"Apa yang akan kamu lakukan jika rumah kamu terbakar dan pada saat itu anak-anak kamu sedang tidur nyenyak ?" .
Wanita tersebut berkata :
"Saya pasti akan membangunkan mereka dari tidur."
Mufti menjawab :
"Bagaimana jika mereka sedang tertidur sangat nyenyak ?" .
Wanita itu kemudian menjawab :
" Demi ALLAH! Saya akan membangunkan mereka sampai bener-benar bangun, jika mereka tidak bangun juga, saya akan menarik menyeret mereka sampai keluar dari rumah." .
Mufti kemudian menjawab :
"Jika itu yang kamu akan lakukan untuk menyelamatkan anak-anak kamu dari api dunia, lakukanlah hal yang sama untuk menyelamatkan mereka dari api neraka di akhirat kelak."

Selasa, 14 Oktober 2014

Dosa Terhapus karena Anak Kecil

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad SAW.
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
“Bukan termasuk dari golongan kami orang yg tak menyayangi anak kecil dan tak menghormati orang tua (orang dewasa).” (HR. Hadits Tirmidzi No.1843)
Selain mendapat pengakuan sebagai umat dari Nabi Muhammad, juga akan dilebur dosa-dosanya walaupun itu besar.
Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya, Qâm‘uith Tughyân halaman 18 menjelaskan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhah menceritakan, bahwa ada seorang tamu datang kepada bagina Nabi Muhammad untuk melaporkan bahwa ia telah melakukan perbuatan maksiat, dan meminta kepada Nabi agar memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa tamu tersebut.
Sebelum permintaan itu dipenuhi, Rasulullah pun bertanya kepada si tamu tersebut, “maksiat apa yang telah kamu lakukan?
“Saya malu mengungkapkan perbuatan masiat tersebut, Ya Rasulullah SAW,” Jawab si Tamu.
Kemudian Nabi mendesak, “Kenapa kau harus malu menceritakan di depan saya tentang dosa-dosa yang telah kamu perbuat, sedangkan kepada Allah swt. yang selalu memantaumu tidak malu?
Setelah itu Rasulullah meminta kepada si tamu untuk segera pergi. “Pergilah, sebelum api neraka datang ke sini karena ulah dosa-dosamu!”
Akhirnya si tamu tersebut pergi sambil menangis dengan perasaan sedih bercampur kecewa.
Tidak lama kemudian, Malaikat Jibril datang dan menenggur Nabi, “Ya Muhammad janganlah membuat si tamu yang melakukan maksiat merasa sedih dan putus asa, karena si tamu sudah membayar kafarat (denda) atas dosanya, walaupun dosa tersebut besar”.
Nabi Muhammad pun bertaya, “Apa kafaratnya?
“Kafaratnya adalah anak kecil. Ketika tamu yang datang tadi tiba di rumahnya, tiba-tiba ada anak kecil mencegatnya dan meminta sesuatu yang bisa dimakan. Akhirnya tamu itu memberikan makanan. Lantas anak itu pergi dengan perasaan senang dan bahagia. Itulah kafarat atas dosa si tamu,” jelas Malaikat Jibril kepada Rasulullah.

Masuk Neraka Gara-gara Air Wudhu?

Seri Kisah Teladan Musim Kekeringan
Berikut ini adalah cerita tentang dua orang dengan kondisi yang kontras: seorang laki-laki kaya raya dan perempuan papa. Dalam keseharian pun, keduanya tampak begitu berbeda. Sang lelaki hidupnya padat oleh kesibukan duniawi, sementara wanita yang miskin itu justru menghabiskan waktunya untuk selalu beribadah.
Kesungguhan dan kerja keras lelaki tersebut membawanya pada kemapanan ekonomi yang diidamkan. Kekayaannya tak ia nikmati sendiri. Keluarga yang menjadi tanggung jawabnya merasakan dampak ketercukupan karena jerih payahnya. Lelaki ini memang sedang berkerja untuk kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya.
Nasib lain dialami si perempuan miskin. Para tetangganya tak menemukan harta apapun di rumahnya. Kecuali sebuah bejana dengan persediaan air wudhu di dalamnya. Ya, bagi wanita taat ini, air wudhu menjadi kekayaan yang membanggakan meski hidup masih pas-pasan. Bukanah kesucian menjadikan ibadah kita lebih diterima dan khidmat? Dan karenanya menjanjikan balasan yang jauh lebih agung dari sekadar kekayaan duniawi yang fana ini?
Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani dalam kitab al-Minahus Saniyyah mengisahkan, suatu ketika ada seorang yang mengambil wudhu dari bejana milik perempuan itu. Melihat hal demikian, si perempuan berbisik dalam hati, “Kalau air itu habis, lalu bagaimana aku akan berwudhu untuk menunaikan sembahyang sunnah nanti malam?”
Apa yang tampak secara lahir tak selalu menunjukkan keadaan sebenarnya. Diceritakan, setelah meniggal dunia, keadaan keduanya jauh berbeda. Sang lelaki kaya raya itu mendapat kenikmatan surga, sementara si perempuan papa yang taat beribadah itu justru masuk neraka. Apa pasal?
Lelaki hartawan tersebut menerima kemuliaan lantaran sikap zuhudnya dari gemerlap duniawi. Kekayaannya yang banyak tak lantas membuatnya larut dalam kemewahan, cinta dunia, serta kebakhilan. Apa yang dimilikinya semata untuk kebutuhan hidup, menunjang keadaan untuk mencari ridla Allah.
Pandangan hidup semacam ini tak dimiliki si perempuan. Hidupnya yang serbakekurangan justru menjerumuskan hatinya pada cinta kebendaan. Buktinya, ia tak mampu merelakan orang lain berwudhu dengan airnya, meski dengan alasan untuk beribadah. Ketidakikhlasannya adalah petunjuk bahwa ia miskin bukan karena terlepas dari cinta kebendaan melainkan “dipaksa” oleh keadaan.
Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani menjelaskan dalam kitab yang sama bahwa zuhud adalah meninggalkan kecenderungan hati pada kesenangan duniawi, tapi bukan berarti mengosongkan tangan dari harta sama sekali. Segenap kekayaan dunia direngkuh untuk memenuhi kadar kebutuhan dan memaksimalkan keadaan untuk beribadah kepada-Nya.
Nasihat ulama sufi ini juga berlaku kebalikannya. Untuk cinta dunia, seseorang tak mesti menjadi kaya raya terlebih dahulu. Karena zuhud memang berurusan dengan hati, bukan secara langsung dengan alam bendawi.

Rabu, 19 Februari 2014

Hidup Bukan Jalan Pintas

Kita terbiasa dikondisikan untuk meraih keinginan dengan cara2 yang instant dan tidak melewati prosedur yg benar berupa perubahan dalam pola hidup kita.
Kalau mau dapat ijazah PhD yah harus sekolah, cari beasiswa, berjam-jam berkutat dg buku, bergadang di lab atau di perpustakaan, dan menulis di depan komputer. Tidak bisa dg plagiat, copy+paste sana-sini atau malah membeli ijazah.
Kalau mau tubuh yang sehat, maka ubahlah pola makan kita dan hindari rokok apalagi alkohol. Serta mulailah berkeringaf dan susah payah dalam berolahraga. Tidak bisa kita mau hidup sehat hanya dg mengonsumsi suplemen tertentu atau hanya sekedar menurunkan berat badan. Hidup sehat itu target jangka panjang dan merupakan cermin dari pola hidup yang juga sehat. Kalau minum anti biotik tapi pola hidup kita tetap tidak sehat ya tidak akan sembuh.
Kalau mau semakin mendekatkan diri pada Tuhan, tidak bisa kita menempuh jalan pintas mau menjadi sufi hanya dg posting kata2 mutiara, wirid tertentu atau mengganti penampilan dg sorban atau jilbab semata. Kita harus mengubah pola hidup kita dlm berinteraksi dg sesama makhluk serta terus menerus memperbaiki akhlak kita. Tidak ada jalan pintas dlm membersihkan kotoran hati dan mengabdi pada umat.
Kalau kita ingin jadi ustad atau memahami ilmu agama, ya harus belajar dengan serius ilmu tafsir, hadis, usul al-fiqh, dan fiqh serta ilmu kalam. Tidak bisa hanya ikut halaqah terus nyalah2in orang yg tdk sepaham dg mengutip google lalu ceramah kesana kemari biar dipanggil ustad.
Kalau mau sukses dalam berkarir, tidak bisa dilakukan dg tebar pesona kepada boss ataupun tebar duit sana-sini. Kita harus berangkat kerja lebih pagi dan pulang lebih akhir, bekerja dg komitmen tinggi serta berprestasi dlm setiap kesempatan. Tidak mudah bukan?
Mereka yang memilih jalur pintas biasanya akan cepat sukses atau terkenal, namun tidak akan lama. Mereka akan cepat jatuhnya spt para ustad atau politisi karbitan. Itulah fenomena yg sekarang kita lihat di sekeliling kita. Mari kita sama-sama mengambil pelajaran dan berusaha mengubah pola hidup kita untuk hidup yang lebih bermakna dan bermanfaat. Mudah utk dituliskan, namun sulit utk kita jalankan, bukan?
Selamat menikmati akhir pekan dan tetaplah optimis!

Cermin Diri Pada Orang Lain

Seringkali cara kita menghakimi hidup orang lain merupakan pantulan dari refleksi diri kita sendiri. Kita lihat ada anak muda yang begitu melejit karirnya, kita menuduh dia sombong, karena tanpa sadar kita memantulkan sendiri asumsi kita bahwa orang sukses itu pasti sombong. Kita lihat ada orang yang kaya raya, kita tuduh dia berbuat curang karena asumsi kita mana ada orang bisa kaya tanpa curang.
Kita lihat ada tetangga kita yang keluarganya aman dan damai, kita hamburkan cerita kemana2 betapa sang suami sesungguhnya telah memperbudak isterinya, sekali lagi, itu karena anggapan kita sendiri bahwa keluarga yg damai itu pasti karena suaminya otoriter dan sang isteri tak sanggup melawan. Kita temui kawan kita yang begitu disukai oleh boss karena kinerjanya yg luar biasa, kita mulai tuduh bahwa si boss bermain api dg kawan tsb.
Pendek kata, segala su'uzhan, buruk sangka, asumsi jelek maupun komentar kita thd orang lain seringkali hanya refleksi diri kita yg tak mampu bersaing, yang sering curang dalam berkarir, yang gemar mencari jalan pintas dan kasak-kusuk. Cara kita menghakimi orang lain adalah bentuk mekanisme pertahanan diri kita yang tidak bisa menerima fakta orang lain lebih baik dari kita.
Ada baiknya kita melakukan dua hal: pertama, bersihkan cermin diri kita sendiri agar pantulannya ke orang lain juga lebih bersih. Kedua, stop judging others. Berhentilah menghakimi hidup orang lain. Yakinlah, hidup anda juga luar biasa dan kepuasan itu datangnya bukan dg ngomongin orang lain tapi dg memberikan komitmen, pengabdian dan manfaat buat sesama.
Selamat membersihkan cermin diri. I love you all.