Mari Makmurkan Masjid dengan Sholat Berjamaah di Masjid
Tampilkan postingan dengan label Jama'ah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jama'ah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 19 Agustus 2016
Masjid dan Dunia Anak
Umar, anak saya yang berusia 3,5 tahun, setiap ditanya "kakak sekolah ya?", maka dijawab olehnya "iya ke masjid". Demikian juga kalau ditanya, "kakak kalau main kemana?", maka dijawab olehnya "ke masjid".
Tidak ada pemaksaan membawa anak ke masjid. Tetapi secara tidak sadar nalar berfikir anak pertama, yang kemudian diikuti adiknya, Mush'ab 'Ammar yang berusia 1 tahun 2 bulan, tempat paling menyenangkan adalah masjid. Belajar, bermain, dan ajakan pada orangtuanya adalah pergi ke masjid. Setiap Buya "panggilan padaku"-nya sudah memakai sarung, spontan berebut minta digendong, karena sangkanya akan ke masjid.
Kebahagiaan dan keceriaan anak akan tampak di masjid. Bertemu banyak orang, tempatnya lapang, terang, dan tentunya bersih tanpa sampah terpandang. Pantas anak-anak merasa nyaman berada di masjid dengan beragam aktivitas.
Dalam riwayat Imam Nasa'i, Imam Ahmad, dan Imam Hakim, Rasulullah dalam jamaah shalat dzuhur atau shalat ashar pernah ruku' dan sujud dengan waktu yang sangat lama. Ini terjadi karena cucu tercinta Nabi, Hasan bin Ali, menaiki punggung baginda ketika ruku'. Secara bergantian cucu yang lebih kecil, Husain bin Ali, menaiki punggung baginda ketika sujud. Maka, Rasulullah selesai shalat minta maaf kepada para jamaah karena tidak ingin cucu-cucu beliau kecewa dan bisa puas bermain menunggangi punggung beliau sehingga memperlama ruku' dan sujudnya.
Tentu dapat dibayangkan bahwa cucu Nabi sudah dibiasakan ke masjid, bahkan menikmati bermain di kala Nabi sedang menjadi imam dalam shalat jamaah fardhu. Tentu ada sisi pengawasan bahwa anak-anak tidak mengotori, tidak menjadikan najis, dan tidak keterlaluan dalam gaduh dan tangisan. Betapa generasi awal Islam telah menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan, terlebih pusat kaderisasi sejak masa anak-anak.
Masjid harus mampu memberikan pendidikan alternatif bagi masyarakat. Sisi keteladanan tentu akan menjadi pembelajaran terbaik bagi anak. Tempat yang bersih jelas mengajari anak untuk hidup bersih. Tempat banyak orang jelas mengajari anak untuk hidup menghormati, mudah bersosialisasi, berani tampil di muka umum, pun lebih cepat mengenal karakter beragam orang. Belum lagi rangkaian kegiatan yang ada, pada akhirnya menimbulkan anggapan bahwa sekolah itu ke masjid, dan masjid adalah sekolah.
Tak heran, ulama NUsantara di masa dulu menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan anak. Lahir Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) dengan beragam sanad metode pembelajaran Baca Tulis Al-Qur'an (BTA) di serambi maupun sisi samping sekitar masjid. Berkembang pula Madrasah Diniyah sebagai kelanjutan dari alumni TPQ dengan pendalaman ilmu ketuhanan (Tauhid), moralitas (akhlaq), ibadah (fiqih), sejarah keagamaan (tarikh), ilmu tata bahasa Arab (nahwu dan shorof), sampai pada kesenian kaligrafi dan nagham tilawatil Qur'an. Oleh karenanya, generasi yang pernah merasakan kaderisasi yang terpusat dari masjid tentu tidak akan mengalami situasi "kagetan" dengan perbedaan karena sudah terbiasa menerima dunia yang berbeda-beda.
Sayangnya, kini banyak masjid yang menjadi "seram" bagi dunia anak-anak. Melarang membawa anak ke masjid karena membuat gaduh, memasang banyak tulisan "dilarang gaduh", dan membuat kesan seolah masjid hanya untuk sholat sehingga kegiatan-kegiatan di luar itu adalah cenderung bid'ah atau menodai sakralitasnya. Masjid, terorganisir atau tidak, seolah dicipta untuk menjadi sepi. Banyak yang ramai membangun masjid dan meminta bantuan, tetapi menjauhkan program kaderisasi santri dan ulama.
Beruntung saya pernah merasakan masjid sebagai tempat yang menyenangkan. Menunggangi ayah yang memimpin jamaah shalat, mengganggu naik ke meja kecil ketika ayah mengajar ngaji, dan mungkin juga gaduh ketika para bapak-bapak shalat berjamaah. Persis, seperti yang dilakukan dua jagoanku saat ini, Umar dan Ammar.
Muh. Khamdan
Depok, 2 Agustus 2016
MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN
Pertama, kami sekeluarga mngucapkan selamat hari raya idul fitri 1437 H. Untuk itulah kami berdoa semoga segala amal ibadah kita semua dapat diterima oleh Allah SWT (Taqobbalallahu minna wa minkum).
Kedua, Kami pun berdoa dg pnuh harap bahwa diterimanya amal ibadah kita, terutama dalam Ramadhan ini benar-benar menjadikan diri kita semua sebagai insan yang kembali kepada kesucian, serta mendapatkan kemenangan dalam predikat ketaqwaan (ja'alanallahu waiyyakum minal 'aidin wal faizin). Sebagaimana janji Allah, orang yg brpuasa Ramadhan dengan pnuh keikhlasan maka akan terhapus dosanya sebelum dan sesudahnya. Ujung dari pengampunan Allah adalah kembali pada kefitrian dan kemenangan sebagai bagian dari orang-orang yang bertaqwa.
Ketiga, Kami menyadari bahwa hak dan janji Allah tidak akan berarti, jika hak antara kami dan sanak saudara, rekan sejawat, sesepuh dan para pimpinan, guru, maupun hubungan apapun yang pernah terjalin dengan kami belum tuntas. Oleh karenanya, dengan kerendahan hati kami memohon keikhlasanny untuk memberikan maaf baik lahir maupun batin atas jalinan yang pernah terjadi di antara kita. Allah saja Maha Pemaaf, semoga maaf juga dapat diberikan kepada kami agar kita benar2 kembali pada fitri lahir batin dan kemenangan orang-orang yang bertaqwa. Sebaliknya, Kami dengan ikhlas telah memaafkan pada seluruhnya sehingga tidak ada beban dan tidak malu jika kelak dalam pertanggung jawaban di hadapan Allah.
Untuk itu secara urut kami ucapkan sekali lagi:
*تقبل الله منا ومنكم تقبل يا كريم*
*جعلنا الله واياكم من العائدين والفائزين*
*وكل عام وانتم بخير*
Mohon Maaf Lahir Batin
Jepara, 6 Juli 2016
* Muh. Khamdan (Widyaiswara Kemenkumham RI)
Jumat, 01 Juli 2016
Makna Filosofi Halal Bi Halal
Maaf Lahir Batin
Jika ditanyakn pada orang Arab, tentu mereka bingung sendiri dengan istilah ini, Halal Bi Halal. Bingung karena struktur bahasa yang digunakan memang tidak benar alias Slang.
Pada 1948, di kala NKRI sdg drongrong pemberontakan atas nama khilafah DI/TII dan PKI Madiun, Pak Karno memanggil KH. Wahab Chasbullah ke istana untuk memberi saran atas pertengkaran ideologis dan situasi politik yg tidak sehat. Kyai Wahab memberikn saran utk mngadakn silaturrahim, trlebih bertepatan dg Hari Raya Idul Fitri.
Politik yg mmanas dan tidak sehat it krn saling menyalahkn, dan itu dosa. Dosa it haram. Supaya tidak punya dosa, maka harus dihalalkan. Dalam acara tersebut semua bertemu dan saling memaafkan, saling menghalalkan, saling mengikhlaskan. Oleh karenany, acara silaturrahim nasional itu diganti dengan istilah "halal bi halal" dg saling bersalaman. Tidaklah dua muslim yg brtemu lalu berjabat tangan mlainkan pasti diampuni keduany sblm berpisah.
Lebaran Ketupat
Halal bi Halal yg kmudian dilakukan oleh masyarakat, seringkali diiringi adanya ketupat (kupat) sebagai akronim ngaKU lePAT (mengakui kesalahan) melalui Kelakuan Empat.
Pertama, Lebaran. Situasi di mana Ramadhan sdh lebar (selesai), dan disambut dg hari idul fitri yg hrus drayakn sampai Allah sndri mengharamkan utk puasa pd hari trsebut.
Kedua, Luberan. Bulan pasca Ramadhan adalah hari-hari meluberkan (melimpahkan) rizqi untuk brsedekah dan brbagi dg ssama, kerabat, fakir miskin, dll.
Ketiga, Leburan. Masa berakhirnya Ramadhan adalah masa kemenangan krn Allah sdh melebur (menghapus) dosa-dosa hambaNya. Oleh karenanya, bulan Syawal gantian saling menghapus dosa sesama manusia.
Keempat, Laburan. Situasi bersihnya diri setelah terampuni dosa kmudian dilanjutkan dengan melabur (mewarnai putih), yaitu laku menghias diri dengan sikap-sikap yang positif.
Posisi keempat laku demikian berimplikasi pd kebaikan dan kesucian lahir dan kesucian batin, fitri. Hal itu tersimbolkan dengan membelah ketupat yang isinya putih bersih bagai hati para muslim yang memenangkan Ramadhan. Pada hari ketujuh Syawal itulah di beberapa daerah merayakan Lebaran Ketupat untuk menandai kesucian lahir batin dg saling berkumpul, makan bareng, dan saling memaafkan. Inilah kearifan lokal ulama Nusantara, tidak berdebat mncari dalil tetapi mengemas substansi agama agar lebih nyata dan diamalkan secara mudah.
Pada kesempatan itu, tentu akan banyak yg mngajukan maaf lahir dan batin. Terlebih tidak dpt berkumpul bersama dlm halal bi halal, reunian, maupun momentum lebaran lain karena adanya larangan cuti lebaran. Oleh karena itulah, kami perlu mengajukan permohonan maaf dengan sepenuh hati secara lahir dan batin dlm kesucian di idul fitri..
Salam hormat n maaf,
Senin, 15 Februari 2016
Kamis, 15 Januari 2015
Peringatan Maulid Nabi Muhammad
DKM Serukan Perbaikan Moral
Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Muhajirin Perumahan Tjitra Mas Residence, Kalisuren, Tajurhalang-Bogor, menyerukan adanya perbaikan moral dalam momentum hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Seruan tersebut dilakukan seiring mulai lunturnya moral remaja agar tidak membekas pada generasi anak-anak yang sedang meniru karakter.
"Bersamaan dengan perayaan maulid Nabi Muhammad SAW, perbaikan moral harus dilakukan dengan meneladani karakter Nabi Muhammad," kata Pengasuh Pengajian DKM Al-Muhajirin, Ustadz Khamdan, Ahad (4/1).
Kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad dilakukan bersama puluhan anak-anak TPA dan para jamaah Al-Muhajirin.
Selasa, 14 Oktober 2014
Masjid Al-Muhajirin Dipenuhi Jamaah Sholat Idul Adha
Sholat Idul Adha Pertama di Tahun 2014
Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Muhajirin menyelenggarakan sholat Idhul Adha untuk yang pertama (5/10), setelah sebelumnya juga melakukan sholat Idul Fitri. Jamaah yang hadir untuk mengikuti sholat idhul adha jauh lebih banyak dari sholat idul fitri sebelumnya.
Menurut seksi tata tempat Delon, jamaah yang hadir kali ini mencapai lebih dari 300-an orang. Para pengurus DKM, pengurus RT 4 RW 1, jamaah pengajian ibu, para remaja masjid, dan warga Perumahan Tjitra Mas Residence beserta masyarakat kampung Berkat Desa Kalisuren sekitar masjid, berbaur memenuhi gedung masjid dan pelataran serta jalanan samping dan depan masjid. Bertindak selaku Imam, Ustadz Taufiq, dan Khotib Ustadz Khamdan.
Dalam khotbahnya Ustad Khamdan menyampaikan bahwa idul adha merupakan momentum untuk mencontoh perjuangan keikhlasan dan kekuatan keluarga besar Nabi Ibrahim AS. Perjuangan gigih mendakwahkan Islam oleh Nabi Ibrahim, dapat mengalami keberhsilan karena adanya dukungan dari istri dan anaknya. Tidak ada cara lain hal itu dapat terwujud, kecuali adanya keteladanan langsung dari Nabi Ibrahim kepada keluarganya. Keikhlasan dan kesetiaan kepada Allah tidak hanya dengan ungkapan, tapi akan teruji oleh Allah secara langsung dengan meminta adanya pengorbanan, baik secara lahir maupun batin, materiil maupun imateriil.
Khotib mengajak jamaah untuk bersama-sama mencermati apa yang dilakukan oleh Ibrahim, Ibrahim yang menginginkan negeri aman, penuh keberkahan, sekaligus menginginkan anak cucunya jauh dari menyembah berhala, serta adanya permintaan tempat yang terhormat. ‘Oleh karena itu warga Perumahan Tjitra Mas Residence dalam upaya mencontoh Nabi Ibrahim, harus bersatu padu membangun keluarganya menjadi keluarga yang saling menguatkan dalam dakwah Islam, menjaga keamanan dan kenyamanan warga, sekaligus mendamaikan suasana dengan penuh nuansa ketakwaan, karena bertaqwa kepada Allah adalah solusi terbaik dalam menghadapi segala ujian”. ungkap khotib
Pembangunan Serambi Masjid Al-Muhajirin Dilanjutkan
Rencana Dimulai 26 Oktober
Hampir sebulan pembangunan serambi masjid tahap pertama berupa pembangunan atap selesai. Kendati dengan dana tersisa sekitar 5,2 juta rupiah, panitia dan pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) bertekad untuk melanjutkan tahap kedua,yaitu pembangunan tembok pembatas serambi dan halaman.
Seperti tertuang dalam Masterplan pembangunan, panitia pembangunan yang dikoordinatori Yayan Heryana telah membuat tahapan pembangunan menjadi tiga fase.
"Memang saat ini ada sedikit pertanyaan dari warga tentang pendanaan. Tapi, panitia harus optimis bahwa demi masjid yang lebih layak dan nyaman untuk beribadah para jamaah, maka menunda-nunda tahapan pembangunan serambi akan menjadikan semangat mengendur”. ujar Yayan Heryana dalam acara rapat pengurus DKM dan panitia pembangunan di sela agenda rutin pengajian malam senin (12/10). Hadir pada kesempatan itu sekitar 25 jamaah yang datang dari berbagai blok Perumahan Tjitra Mas Residence.
Ustad Tauffiq selaku ketua DKM menjelaskan, manfaat pembangunan serambi akan dirasakan pada masa anak cucu generasi mendatang. Terlebih untuk kegiatan mengaji rutin anak-anak dan kegiatan TPA yang kini memiliki santri lebih dari 60 anak.Hal demikian dikuatkan oleh Ustadz Hamdan dengan menyepakati pembangunan tahap kedua akan dimulai pada 26 Oktober sambil menunggu tim desain yang dipimpin Arfiyanto untuk menyelesaikan konsep pembangunan.
Senin, 02 Juni 2014
Isra' Mi'raj: Perintah Awal Sholat 5 Waktu
Peringatan isra’ mi’raj tahun 2014 M / 1435 H, diselenggarakan oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Muhajirin Perumahan Tjitra Mas Residence pada Ahad, 1 Juni 2014.
Ketua RT 4/1 Desa Kalisurenn, Ki Samiaji, hadir didampingi beberapa pengurus RT yang lain. Ustadz Taufiq, ketua DKM dalam sambutannya menyatakan bahwa peringatan isra’ mi’raj ini menjadi dentum awal realisasi program kerja DKM yang sudah disusun sekitar 2 pekan sejak penyusunan pengurus DKM pada akhir Mei kemarin.
Acara dimeriahkan penampilan tim hadrah anak-anak masjid dengan membawakan dua iringan sholawat mahalul qiyam dan Ya Thoyyibah. “Ini merupakan tampilan kedua bagi anak-anak main hadrah, karena waktu latihan yang singkat” tutur coordinator kepemudaan, Rifa’an.
Acara yang berlangsung selepas sholat jamaah Isya’ tersebut diisi pengajian kitab rutin, “Kitab Taqrib” karangan Imam Abi Syuja’ oleh Ustadz Khamdan.
Dalam ceramahnya, Ustadz yang juga bekerja di Kementerian Hukum dan HAM ini memaparkan bahwa peristiwa isra’ Nabi dijelaskan dalam surat Isra’ ayat 1 sebagai peristiwa yang luar biasa sehingga Allah mengawalinya dengan kata “subhana” yang berarti maha suci. Hal ini sebagaimana kalau seseorang melihat suatu hal menakjubkan maka disunahkan mengucapkan “subhanallah”.
Sedangkan peristiwa mi’raj dijelaskan oleh Allah dalam surat An-Najm yang diawali dengan sumpah Allah dengan ungkapan “Demi Bintang”, dan sampai pada ayat “inda sidratil muntaha”.
Dalam amanat terakhir, Ustadz berkacamata menjelaskan bahwa pesan utama yang dibawa Nabi Muhammad adalah perintah sholat lima waktu.
Kamis, 08 Mei 2014
Pengurus DKM Fokus 5 Bidang
Ustadz Taufiq selaku Ketua DKM Al-Muhajirin mengharapkan kepengurusan yang akan dibentuk dalam waktu terdekat ini, memiliki produktivitas dan keikhlasan pengabdian yang penuh untuk Masjid Al-Muhajirin. “Kita ini kerja ikhlas, oleh karena itu tidak perlu saling mencari siapa yang berjasa dan tidak berjasa, atau memunculkan kecurigaan untuk ke depannya”. Pesannya.
Dalam kepengurusan yang disusun pada malam Ahad, (3/5) di Masjid Al-Muhajirin akan fokus pada 5 bidang, yaitu pendidikan, perekonomian, pemeliharaan, kewanitaan, dan keremajaan. Oleh karena itu masing-masing sudah memiliki tugas dan wewenang yang tergambarkan dalam tata kerja pengurus DKM.
"Masing-masing bidang nantinya akan menyusun program kerja beserta target capaian, yang kemudian dirapatkan secara umum. Hal ini agar beban tugas yang diemban sesuai kekuatan dan kemampuan masing-masing bidang itu sendiri.” Tambah Ustadz Khamdan selaku wakil ketua yang mengawali dengan konsep tata kerja pengurus.
Rapat penyusunan pada akhirnya membentuk pengurus sementara sebagai berikut. Ustadz Taufiq (ketua), Ustadz Khamdan (wakil ketua), Arfiyanto (sekretaris), Deden Sukanta (bendara). Untuk bidang-bidang ditunjuk koordinatornya, Chaeron Priyatin, Sugeng, Dodo, Herry (bidang pendidikan dan dakwah), Jamil, Muhaminin, Ngatman, Ubaidillah (ekonomi dan humas), Tohir, Syahrul, Yayan Heryana, Wahidin, Salam (perawatan dan pemeliharaan), Ida, Lusi, Fita, Ani (kewanitaan dan kesejahteraan), Rifaan, Adriadi, Tiyamto, Wahyu (keremajaan dan seni).
Untuk masing-masing blok disepakati adanya koordinator untuk memudahkan informasi tersosialisasikan. Iid (Blok F), Delon (Blok E), Rio (Blok D), Abdul Bazid (C), Hendi (B), dan Api (A).
Ustadz Taufiq Memimpin DKM Kembali
Laporan pertanggungjawaban pengurus Mushola pada periode 2012-2014 diwarnai suara aklamasi menerima dari para jamaah Masjid Al-Muhajirin. Ustadz Taufiq selaku ketua Mushola mengawali dengan penjelasan tentang kegiatan Jamaah Tabligh yang pernah menginap di Masjid Al-Muhajirin selama 3 hari pada 21-23 Maret kemarin.
Dalam penjelasannya, ustadz lulusan S1 dari UIN Jakarta tersebut menyatakan bahwa sesama umat muslim harus selalu menjunjung semangat persatuan. “Pengurus kemarin namanya masih dengan Mushola karena Masjid belum dibangun, nach sekarang baru dibentuk DKM karena masjid sudah berdiri. Mari kita selalu berpegang teguh dengan dalil Allah Wa’tasmu bi hablillahi jami’a wa la tafarroqu”, Demikian ayat yang dijadikan rujukannya dalam acara LPJ dan pemilihan pengurus DKM di Masjid Al-Muhajirin (27/4).
Banyak pihak dari warga perumahan Tjitra Mas Residence yang mempertanyakan tentang kegiatan Jamaah yang terkesan asing dan aneh tersebut.
Ketua RT 4/1 Desa Kalisuren, Ki Samiaji, yang membuka acara menyampaikan bahwa siapapaun tamu atau orang asing yang datang ke wilayah RT 4 lebih dari 24 jam, harus minta ijin dan lapor pada pihak RT maupun pengurus RT yang lain. Ke depannya, kebijakan ini akan dirumuskan untuk disosialisasikan ke seluruh masyarakat.
Setelah secara aklamasi laporan diterima, pemilihan pengurus DKM dilanjutkan dengan pimpinan rapat Arfiyanto, mantan sekretaris pada pengurus Mushola sebelumnya. Mekanisme yang lumayan memancing perdebatan karena muncul banyak tawaran cara, dari model aklamasi atau melanjutkan masa kepengurusan, pemilihan tertutup dengan menuliskan nama di kertas, dan pemilihan terbuka.
Melalui pemilihan tertutup yang menjadi kesepakatan jamaah yang hadir sekitar 50-an orang, maka memutuskan Ustadz Taufiq untuk menjadi ketua DKM yang baru masa periode 2014-2017.
Senin, 17 Februari 2014
Rasulullah: Sosok Paling Sempurna
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Masjid
Rasulullah adalah sosok yang sempurna akhlaknya. Kepribadiannya tidak pernah diwarnai sikap marah kendati sering diganggu kaum kafir maupun dicandai para sahabat. Keagungan akhlak dan kepribadian ini pulalah yang menjadikan Islam dapat diterima semua lapisan masyarakat, kendati semula sangat memusuhinya.
Demikian dinyatakan Ketua MUI Desa Kalisuren, Ustad Chusni, di Masjid Al-Muhajirin Perumahan Tjitra Mas Residence, Desa Kalisuren Tajurhalang Bogor, Ahad (16/2), dalam kegiatan Peresmian masjid oleh PKPU sebagai penyalur dana dari Uni Emirat Arab yang dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Untuk itu, Ustadz Chusni bersama jajaran pengurus Masjid al-Muhajirin mengajak warga dan kaum muda perumahan Tjitra Mas untuk melanjutkan tradisi akhlak yang baik dan upaya pemberdayaan masyarakat melalui masjid.
"Masjid Al-Muhajirin ini sesungguhnya adalah masjid perjuangan umat, yang ke depan menjadi tonggak pengembangan masyarakat untuk mengawal moral dan kehidupan warga perumahan dan sekitarnya,” lanjut Ustadz yang rumahnya berada di pintu masuk Perumahan Tjitra Mas Residence.
Acara yang diikuti sekitar 400 orang ini dimeriahkan dengan penampilan musik Marawis yang dimainkan oleh ibu-ibu Majlis Ta’lim Al-muhajirin, serta penayangan video kilas balik perjalanan pembangunan Masjid Al-Muhajirin yang dulu berupa bangunan dari bilik bambu.
Jumat, 14 Februari 2014
Merayakan Maulid dengan Peresmian Masjid Al-Muhajirin
Seolah tak mau ketinggalan dari kemeriahan maulid Nabi di berbagai daerah, Pengurus Masjid Al-Muhajirin dan warga Perumahan Tjitra Mas Residence Desa Kalisuren, Tajurhalang, Bogor akan menggelar kegiatan maulid Nabi sekaligus menandai peresmian masjid.
Pengurus Masjid, pihak RT 04/01 Desa kalisuren, bekerjasama bekerjasama dengan PKPU mempersembahkan kegiatan yang digabungkan dalam acara Peresmian Masjid dan Maulid Nabi.
Pembangunan masjid yang dimulai pada 15 September 2013 ini, secara resmi akan diserahterimakan oleh PKPU sebagai penyalur donasi pendanaan dari Uni Emirat Arab. Acara dikemas dalam berbagai jenis kegiatan, antara lain, penampilan marawis, keterampilan anak-anak TPA, dan lainnya
“Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghidupkan kembali rasa cinta generasi muda kepada Idola sebenarnya idola, yaitu Nabi Muhammad SAW. Dan ini dimulai dari masjid,” tutur Ustad Taufiq, ketua pengurus Masjid Al-Muhajirin.
Tahap persiapan kegiatan telah dilakukan melalui check dan koordinasi pada kamis malam (13/2) di halaman masjid. Hadir para panitia yang dibentuk pada 8 Pebruari untuk menyampaikan kesiapan-kesiapan acara.
Panitia berencana menjadikan agenda ini sebagai peringatan kilas balik perjalanan jamaah Al-Muhajirin yang mengawali dari mushola bambu sampai akhirnya memiliki bangunan masjid permanen yang akan resmi diserahkan dan diresmikan pada ahad pagi itu.
Minggu, 15 September 2013
Pembongkaran Mushola Al-Muhajirin Menjadi Masjid Al-Muhajirin
Penuhi Target 2 Tahun
Mulai hari ini, Ahad (15/9) akan dilakukan pembangunan masjid Al-Muhajirin di Perumahan Tjitra Mas Residence, Kampung Berkat-Kalisuren, Tajurhalang, Bogor. Karenanya, bangunan mushola Al-Muhajirin yang dibangun pada Oktober 2011 dengan bahan utama bilik bambu dirobohkan.
Perobohan tersebut langsung dipimpin ketua pengurus mushola, ustadz Taufiq, beserta ketua RT 04/1 Desa Kalisuren, Yayan Nurjaman.
"Pembongkaran mushola dari bambu secara total ini dilakukan, karena memerlukan lahan yang rata untuk penentuan arah kiblat dalam pembangunan bangunan permanen nantinya. Pada dasarnya juga sudah menjadi target para pengurus awal bahwa kekuatan mushola bambu hanya 2 tahun," ucap Ustadz Taufiq.
Dibandingkan perencanaan sebelumnya, bangunan permanen yang dalam peletakan batu pertama direncanakan berukuran 9x9 meter, dalam pembangunan yang akan dilakukan nanti berubah menjadi 11x11 meter. Masjid tersebut menempati lahan seluas 489 meter persegi.
Sebelumnya, mushola Al-Muhajirin berada di wilayah bawah di blok B yang dibangun pada 2011. Namun keadaan lahan yang terlalu dekat dengan sungai sekaligus dengan tekstur yang lembek menjadikan seringnya dikepung banjir kendati hujan dengan intensitas ringan. Hingga kini, banjir masih selalu merendam wilayah yang kemudian disepakati sebagai lahan balai warga tersebut.
Penetapan Arah Kiblat
Sebelum pembongkaran, jamaah subuh yang dipimpin Ustadz Taufiq dan Ustadz Khamdan sudah bermusyawarah agar penetapan arah kiblat dipimpin oleh Ketua MUI kalisure, ustadz Husni. “Pada prinsipnya sederhana bahwa arah kiblat mengacu ke arah barat tinggal ditambah serong sedikit ke kanan” jawab ustadz husni untuk mempermudah penentuan arah.
Sedangkan berdasarkan derajat kompas sebagaimana dilakukan ustadz Khamdan, posisi kiblat dari lahan bakal masjid adalah 72° 5° 145°, yang pada akhirnya menggeser arah kiblat yang sudah ada sebelumnya. Kompas inipun diperbandingkan dengan 3 kompas sekaligus sehingga secara aklamasi sudah disepakati titik utama arah kiblat.
Tiyamto dan Luthfi Ibrahim selaku koordinator keuangan konsumsi menjelaskan bahwa kapasitas tenaga yang akan bekerja ditaksir 4 orang, yang sangat dimungkinkan untuk mengejar target Hari raya Idul Adha maka bisa ditambah menjadi 6 maupun sampai 12 orang.
Selasa, 03 September 2013
Majlis Ta'lim Ibu Al-Muhajirin Miliki Ketua Baru
Ida Madthohir Sebagai Ketua Dalam Pemilihan Demokratis
Majlis Ta’lim Ibu-Ibu Al-Muhajirin Perumahan Tjitra Mas Residence, Desa Kalisuren, Tajurhalang-Bogor memiliki pimpinan baru setelah diadakan pemilihan pada pembukaan pengajian di Mushola Al-Muhajirin, pada Selasa, (3/9).
Pemilihan yang berlangsung di waktu Ashar itu dilakukan setelah serangkaian agenda pengajian. Sebagai agenda rutin, pengajian ibu-ibu Al-Muhajirin yang dilakukan setiap selasa siang itu diawali dengan pembacaan Surat Yasin dan Tahlil, sambutan-sambutan, dan ceramah agama yang mendatangkan ustadzah dari lingkungan perumahan maupun di luar perumahan.
Pemilihan secara voting tertutup membuahkan hasil Ida Madthohir sebagai Ketua Majlis Ta’lim dengan jumlah suara 30, yang berarti menggantikan kepengurusan sebelumnya yang sempat diwarnai adanya pengunduran diri. Untuk selanjutnya ketua terpilih akan menyusun kepengurusan guna melengkapi dari sisi sekretaris, bendahara, maupun bidang-bidang kerja sesuai dengan kebutuhan.
Ke depan, menjadi tantangan terhadap pengurus Majlis Ta’lim Ibu-Ibu Al-Muhajirin untuk dapat mengambangkan jenis kegiatan yang dapat mengakomodir aspirasi anggota maupun warga secara umum. Dalam hal ini, perlu ditekankan adanya substansi kegiatan pengajian dan memperkuat sinergi dengan ibu-ibu secara keseluruhan.
Jumat, 30 Agustus 2013
Belajar Membaca Qur'an Tiap Ahad Subuh
Nabi Muhammad [Saja] Baru Belajar Qur'an Usia 40 Tahun
Imam Bukhari, meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan baik dan lancar, maka ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan kesulitan, maka ia mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Muslim, dari Umamah Al-Bahili Radhiyallahu Anhu meriwayatkan, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi ahlinya (yang membaca dan mengamalkannya) ”
Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah rumah Allah (masjid) dalam rangka membaca Kitabullah (Al-Qur’an), mempelajari serta mengajarkannya di antara mereka, melainkan akan turun ketenangan dan ketentraman kepada mereka. Mereka akan dipenuhi oleh rahmat dan para malaikat akan senantiasa mengelilingi mereka serta Allah akan menyebut nama mereka di sisi para malaikat.”(HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Al-Qur’an akan datang pada Hari Kiamat seraya memohon, ‘Ya Rabb! Hiasilah ia (pembaca Al-Qur’an), maka Allah-pun memakaikan mahkota kemuliaan. Lalu ia berkata lagi, ’Tambahkan ya Allah!’ Maka Allah-pun memakaikan perhiasan kemuliaan. Iapun meminta lagi, ’Ridhailah ia ya Allah’. Lalu Allah-pun meridhainya. Lalu ia berkata, bacalah dan perbaikilah bacaanmu, dan setiap ayat akan ditambahkan satu kebaikan.”(HR. At-Tirmidzi dan hadits ini hasan)
Menyadari hal itulah, maka jamaah subuh Mushola Al-Muhajirin mengadakan kegiatan belajar mengaji Al-Qur’an setiap Ahad subuh, yang akan dimulai pada 1 September besok. Tidak ada keterlambatan dalam hal belajar membaca Al-Qur’an karena sesungguhnya Nabi Muhammad baru belajar tentang Al-Qur’an justru diusia 40-an tahun.
Senin, 26 Agustus 2013
Musyawarah Kerja Pengurus Mushola Al-Muhajirin
Laporan Tahunan dan Penyusunan Program Setahun Ke Depan
Dalam rangkaian refleksi perjalanan setahun pengurus Mushola Al-Muhajirin, diselenggarakan musyawarah penyusunan program kerja untuk menyamakan persepsi tentang kegiatan setahun ke depan, sekaligus pembuatan laporan kegiatan.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh pengurus ini berlangsung setelah pengajian rutin malam Senin usai dilaksanakan pembukaannya (Ahad, 25/8). Musyawarah dibuka oleh ketua pengurus Mushola, Ustadz Taufiq yang sekaligus menjabat sebagai seksi keagamaan RT 4/1 Desa Kalisuren, Tajurhalang-Bogor.
Dalam sambutannya, Ustadz Taufiq menyampaikan bahwa laporan kegiatan tahunan yang sudah disusun merupakan salah satu elemen penting yang harus dilaksanakan sebagai bukti pelaksanaan kegiatan satuan kerja dan tolak ukur kinerja, yang pada akhirnya akan menjadi titik tolak perbaikan kinerja pada masa yang akan datang.
Salah satu rencana yang dibahas dalam musyawarah tersebut adalah program pengadaan alat rebana hadrah untuk menggerakkan kegiatan jamaah bapak-bapak menyalurkan kreativitas seni. Hal ini juga untuk memancing kalangan jamaah anak-anak dan remaja semakin meningkatkan semangat persatuan dan aktivitasnya memakmurkan mushola yang nantinya akan diresmikan sebagai masjid. Selain itu, pengadaan alat rebana hadrah akan dikampanyekan sebagai budaya islami di setiap kegaiatan hajatan warga agar tidak dimonopoli hiburan orkes dan layar tancap yang seolah membudaya di masyarakat sekitar Permahan Tjitra Mas Residence.
Diharapkan hasil rekomendasi dari musyawarah ini dapat diimplementasikan dalam kegiatan kerja di masing-masing koordinator, baik koordinator remaja, koordinator pengajian, koordinator pembangunan, maupun koordinator kesejahteraan.
Jumat, 23 Agustus 2013
Mengawali Pengajian Rutin Malam Senin Jamaah Al-Muhajirin
Pembahasan Fiqih Kitab Taqrib
Melanjutkan kegiatan pengajian rutin bapak-bapak jamaah Al-Muhajirin yang sejak 2011 sudah dilakukan setiap malam senin, maka pengajian akan kembali dilanjutkan malam senin besok (25/8). Rencananya, pengajian akan membahas kajian fiqih dengan Kitab Matan Al-Ghayah wat Taqrib atau dikenal dengan Kitab Taqrib karangan Imam Abi Suja’ sehingga kitab ini juga sering disebut Matan Abi Suja'.
Kitab fiqh ini sangat populer di kalangan pesantren salaf karena hampir di seluruh pesantren salaf di Indonesia membahas kitab ini sehingga seolah telah menjadi kitab wajib untuk memhami fiqih bermazhab Imam Syafi’i. Nama lengkap penulis Ahmad bin al-Husain bin Ahmad al-Ashfahani. Dalam satu riwayat beliau dilahirkan pada tahun 443 H atau 1052 M di kota Isbahan salah satu kota yang ada di Persia atau Iran saat ini.
Pembacaan kitab akan dipimpin Ustadz Muhammad Khamdan, yang sebelumnya akan diawali dengan serangkaian kegiatan yang dipimpin oleh Ustadz Taufiq, yaitu pembacaan Asmaul Husna, pembacaan Surah Yasin, dan Tahlil, baru pembahasan kitab fiqih tersebut.
Sabtu, 03 Agustus 2013
Membangun Tradisi Tadarus Qur'an
Masyarakat Perumahan Tjitra Mas Residence di desa Kalisuren kecamatan tajurhalang-Bogor sudah membangun tradisi tadarus al-Qur’an di setiap malam Ramadhan. Tak sekadar membaca, aktivitas menelaah isi Al-Qur’an juga dilakukan setiap Sabtu dan Minggu sore sembari menanti buka puas bersama.
Hal ini dilakukan di mushola Al-Muhajirin yang selesai lebaran nanti akan dibongkar dan dibangun masjid dengan ukuran 9x9 meter yang bekerjasama dengan PKPU Lembaga Kemanusiaan Nasional atas donasi dari Uni Emirat Arab.
Setelah pelaksanaan shalat tarawih, tadarus dilakukan oleh jamaah remaja yang mayoritas adalah perempuan. Dan biasanya sampai tengah malam, atau sekitar jam 12 dini hari dituntaskan oleh jamaah bapak-bapak.
Saat ini, jamaah tadarus sudah menghatamkan 2 kali, dan pada Jum'at malam (2/8) sudah sampai juz 22 pada surat Yasin. Oleh karenanya, pada penghujung Ramadhan ketika beberapa jamaah mudik, maka tadarus akan hatam 3 kali selama bulan Ramadhan.
Ritual tadarus ini biasanya diikuti oleh sebagian jamaah tarawih. Tentu langkah ini untuk membudayakan tradisi yang kuat di masyarakat Indonesia -terutama tempo dulu- masyarakat membaca Al Qur’an dalam bulan Ramadhan di Mesjid, Surau, Meunasah (Langgar).
Jumat, 02 Agustus 2013
Al-Muhajirin Miliki Muadzin Cilik
Masih terngiang sayup-sayup adzan terdengar di Mushola Al-Muhajirin ketika hari menjelang terik siang sebagai pertanda shalat dzuhur, Ahad (28/7/13). Kumandang adzan yang terdengar pukul 12 siang, memang bukan biasanya karena dilantunkan oleh anak kecil.
Itulah bagian kecil unjuk kebolehan para juara lomba adzan yang diselenggarakan Panitia Ramadhanan Mushola Al-Muhajirin Perumahan Tjitra Mas Residence, Desa Kalisuren, Kecamatan Tajurhalang, Bogor.
“Lomba adzan ini sebenarnya diadakan untuk dua kategori, yaitu anak-anak dan remaja. Namun, pada akhirnya kita cuma audisi khusus kategori anak karena kategori remaja pendaftar hanya 1 orang,” jelas Ustadz Khamdan, salah satu panitia penyelenggara lomba sekaligus ketua coordinator kegiatan Ramadhan.
“Pendaftarannya pun gratis,” sambung Anto Faiz. Lomba ini diikuti 22 peserta dari berbagai latar belakang pendidikan dan blok tempat tinggal dari Perumahan yang sudah diisi 165 Kepala keluarga itu. Jumlah peserta yang melebihi perkiraan ini, mengakibatkan waktu pelaksanaan lomba dimajukan dari awalnya pukul 10 menjadi pukul 9 pagi.
5 Juara yang terpilih, untuk selanjutnya menjadi muadzin pengganti dalam setiap waktu shalat rawatib di Mushola Al-Muhajirin.
Gelar Lomba Mewarnai Ramadhan
Hanif binti Heri Siswanto akhirnya menjadi juara I lomba mewarnai pada gebyar ramadhan Al-Muhajirin yang berlangsung di mushola Al-Muhajirin, Perumahan Tjitra Mas Residence Desa Kalisuren Kecamatan Tajurhalang, Bogor, Ahad (28/7/13).
Sementara untuk juara 2 diraih Oliv binti Budi Utama dan jura 3 Evan bin Iid Fentri. Lomba mewarnai tersebut diikuti 18 anak dari sejumlah blok perumahan Tjitra Mas Residence yang berumur di bawah 6 tahun. Bagi para pemenang diberikan bingkisan perlengkapan sekolah dan piala.
Meski dalam suasana shaum ramadhan, anak anak balita terlihat bersemangat mengikuti lomba. Menariknya ternyata anak-anak di usia dini sudah sangat paham bagaimana mewarnai. Warna apa untuk atap, tembok, daun, bahwan antara matahari dan awan.
Usai melakukan lomba mewarnai, dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan gebyar ramadhan yang telah disusun panitia diantanya final Lomba Cerdas Cermat (LCC) kategori usia 6-12 tahun.
Langganan:
Postingan (Atom)



















